Beranda > Preeklampsia: Penyebab, Gejala & Cara Mencegah

Preeklampsia: Penyebab, Gejala & Cara Mencegah

Preeklampsia: Penyebab, Gejala & Cara Mencegah

Ditinjau oleh: dr. Cherysa Rifiranda, Sp.O.G

Kehamilan adalah perjalanan yang dinanti banyak pasangan. Namun, penting bagi ibu hamil untuk mewaspadai berbagai risiko kesehatan yang mungkin timbul, salah satunya adalah preeklampsia.

Kondisi ini merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang serius dan memerlukan pemantauan ketat. Memahami apa itu preeklampsia adalah langkah awal yang krusial untuk menjaga kesehatan ibu dan janin.

Apa Itu Preeklampsia

Preeklampsia adalah sebuah gangguan atau kondisi kompleks yang terjadi pada masa kehamilan, biasanya muncul setelah usia kehamilan 20 minggu. Kondisi ini ditandai dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi yang baru muncul pada saat kehamilan.

Selain hipertensi, kondisi ini juga sering disertai dengan adanya protein dalam urine (proteinuria) atau tanda-tanda kerusakan pada organ lain. Organ yang sering terdampak meliputi ginjal, hati, darah, atau otak.

Kondisi ini tidak boleh dianggap remeh karena dapat berkembang menjadi eklampsia, yaitu saat ibu hamil mengalami kejang. Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting untuk mencegah perburukan kondisi.

Gejala Preeklampsia

Seringkali preeklampsia tidak menunjukkan gejala yang jelas pada awalnya. Tanda pertamanya mungkin hanya terdeteksi melalui kenaikan tekanan darah saat pemeriksaan kehamilan rutin.

Namun, seiring berkembangnya kondisi, ibu hamil mungkin akan merasakan beberapa keluhan. Mengenali gejalanya sangat penting agar ibu hamil dapat segera mencari pertolongan medis. Berikut adalah tanda dan gejala yang harus diwaspadai:

1. Hipertensi

Gejala ini merujuk pada tekanan darah tinggi yang mencapai 140/90 mmHg atau lebih. Diagnosis ini biasanya dikonfirmasi setelah dua kali pemeriksaan dengan jarak waktu tertentu, dan menjadi salah satu indikator utama preeklampsia.

2. Proteinuria

Ini adalah kondisi ditemukannya protein dalam sampel urine saat pemeriksaan laboratorium. Tanda ini menunjukkan adanya gangguan atau masalah pada fungsi ginjal, yang merupakan salah satu organ vital yang bisa terdampak oleh kondisi ini.

3. Sakit Kepala Berat

Ibu hamil mungkin merasakan sakit kepala yang parah, persisten, dan tidak kunjung hilang. Gejala ini akan tetap bertahan bahkan setelah minum obat pereda nyeri biasa yang umumnya aman untuk kehamilan.

4. Gangguan Penglihatan

Waspadai jika penglihatan menjadi kabur atau menjadi sangat sensitif terhadap cahaya (fotofobia). Gejala lain bisa berupa melihat bintik-bintik melayang (floaters) atau kilatan cahaya yang muncul tiba-tiba.

5. Nyeri Perut Kanan Atas

Gejala ini berupa rasa nyeri hebat di bawah tulang rusuk sebelah kanan, atau terkadang di area ulu hati. Kondisi ini sering disalahartikan sebagai sakit maag atau gangguan pada liver, padahal bisa jadi ini tanda preeklampsia yang serius.

6. Mual dan Muntah

Mual dan muntah patut dicurigai jika terjadi secara mendadak dan parah di trimester kedua atau ketiga. Gejala ini berbeda dengan morning sickness yang biasa terjadi di awal kehamilan.

7. Pembengkakan (Edema)

Perhatikan adanya bengkak mendadak pada wajah, area sekitar mata, tangan, dan kaki. Meskipun bengkak pada kaki wajar saat hamil, pembengkakan yang tiba-tiba, berlebihan, dan menyeluruh patut dicurigai.

8. Penurunan Produksi Urine

Ibu hamil mungkin menyadari bahwa jumlah urine yang keluar lebih sedikit dari biasanya, atau dikenal sebagai oliguria. Ini merupakan tanda bahwa fungsi filtrasi ginjal tidak berfungsi dengan baik, yang bisa menjadi indikasi serius.

9. Sesak Napas

Sesak napas atau napas yang terasa berat secara tiba-tiba tidak boleh diabaikan selama kehamilan. Gejala ini bisa terjadi akibat adanya penumpukan cairan di paru-paru (edema paru), yang merupakan komplikasi serius dari preeklampsia.

Penyebab Preeklampsia

Hingga saat ini, penyebab pasti preeklampsia belum sepenuhnya dipahami, namun diduga kuat berhubungan dengan masalah perkembangan pembuluh darah yang memasok plasenta, yang bisa dipicu oleh beberapa faktor risiko.

Plasenta adalah organ yang berkembang selama kehamilan untuk menyalurkan nutrisi dan oksigen ke janin. Pada ibu dengan kondisi ini, pembuluh darah di plasenta diduga tidak berkembang atau tidak berfungsi dengan baik.

Pembuluh darah yang lebih sempit ini membatasi aliran darah ke plasenta, yang dapat menyebabkan tekanan darah ibu meningkat. Faktor-faktor seperti masalah sistem imun, kerusakan pembuluh darah, atau faktor genetik juga diduga ikut berperan dalam memicu preeklampsia.

Faktor Risiko Preeklampsia

Setiap ibu hamil memiliki risiko mengalami preeklampsia, namun beberapa wanita memiliki faktor risiko yang lebih tinggi. Mengetahui faktor risiko ini membantu dokter dan ibu hamil untuk lebih waspada selama masa kehamilan.

Beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini antara lain:

  • Riwayat Preeklampsia: Pernah mengalami komplikasi serupa pada kehamilan sebelumnya adalah faktor risiko terkuat.
  • Kehamilan Pertama: Risiko cenderung lebih tinggi pada kehamilan pertama.
  • Kehamilan Kembar: Mengandung lebih dari satu janin (kembar dua, tiga, atau lebih).
  • Usia Ibu: Kehamilan pada usia yang terlalu muda atau di atas usia 35 tahun.
  • Kondisi Medis Sebelumnya: Memiliki riwayat penyakit kronis seperti hipertensi kronis, penyakit ginjal, diabetes, atau sindrom antifosfolipid (APS).
  • Obesitas: Indeks massa tubuh berada di angka 30 atau lebih sebelum hamil.
  • Riwayat Keluarga: Adanya ibu atau saudara perempuan yang pernah mengalami kondisi ini.
  • Jarak Kehamilan: Jarak antar kehamilan yang terlalu dekat, biasanya kurang dari 2 tahun atau terlalu jauh, misalnya lebih dari 10 tahun.
  • Teknologi Reproduksi Berbantu: Kehamilan yang terjadi melalui program bayi tabung (IVF).

Baca Juga: Tes Medis yang Wajib Dilakukan Sebelum Program Hamil

Komplikasi Preeklampsia

Jika tidak ditangani dengan baik, preeklampsia dapat menyebabkan komplikasi serius hingga berisiko mengancam nyawa bagi ibu dan janin. Pemantauan kehamilan yang ketat sangat penting untuk mencegah terjadinya komplikasi.

1. Komplikasi pada Ibu

  • Eklampsia: Ini adalah komplikasi paling ditakuti, di mana preeklampsia berkembang menjadi kejang yang bisa berakibat fatal.
  • Sindrom HELLP: Singkatan dari Hemolysis (pecahnya sel darah merah), Elevated Liver enzymes (peningkatan enzim hati), dan Low Platelet count (trombosit rendah). Sindrom ini termasuk langka dan berbahaya bagi ibu dan janin.
  • Solusio Plasenta: Plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum waktunya, menyebabkan perdarahan hebat.
  • Kerusakan Organ: Komplikasi utama sindrom HELLP meliputi kerusakan hati, gagal ginjal akut, stroke, dan edema paru (penumpukan cairan di paru-paru).
  • Penyakit Kardiovaskular di Masa Depan: Wanita yang pernah mengalami komplikasi ini memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung dan stroke di kemudian hari.

2. Komplikasi pada Janin

  • Pertumbuhan Janin Terhambat (IUGR): Preeklampsia mengganggu aliran darah ke plasenta, sehingga janin tidak mendapat cukup oksigen dan nutrisi.
  • Kelahiran Prematur: Seringkali, satu-satunya cara mengatasi kondisi serius ini adalah dengan melahirkan bayi, meskipun belum cukup bulan.
  • Berat Badan Lahir Rendah: Berat badan bayi terhitung rendah karena pertumbuhan janin yang terhambat atau kelahiran prematur.
  • Kematian Janin: Pada kasus yang sangat parah, kondisi ini bisa berakibat fatal bagi janin.

Cara Mengatasi Preeklampsia pada Ibu Hamil

Penanganan preeklampsia sangat bergantung pada tingkat keparahan kondisi dan usia kehamilan. Tujuan utamanya adalah menjaga keselamatan ibu dan melahirkan janin dalam kondisi sesehat mungkin.

Satu-satunya “obat” definitif untuk kondisi ini adalah melahirkan plasenta dan bayi. Namun, jika kehamilan belum cukup bulan, dokter akan berusaha mengelola kondisi tersebut.

1. Pemberian Obat-Obatan

Dokter dapat memberikan obat untuk menurunkan tekanan darah, obat pencegah kejang seperti magnesium sulfat, serta terapi lain untuk menstabilkan kondisi ibu. Pemberian obat disesuaikan dengan tingkat keparahan preeklampsia dan kondisi kehamilan.

2. Pemantauan ANC

Ibu hamil dengan preeklampsia perlu melakukan pemeriksaan ANC lebih sering untuk memantau tekanan darah, kondisi janin, serta fungsi organ penting seperti ginjal dan hati. Pemantauan ketat membantu dokter mengambil keputusan lebih cepat jika terjadi perburukan.

3. Persalinan

Jika kondisi ibu memburuk atau usia kehamilan sudah cukup aman untuk melahirkan, dokter akan merekomendasikan persalinan sebagai langkah terbaik. Persalinan dapat dilakukan secara induksi atau operasi caesar, tergantung kondisi ibu dan janin.

Cara Mencegah Preeklampsia

Meskipun penyebab pastinya belum diketahui, ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk membantu mengurangi risiko preeklampsia, terutama bagi mereka yang berisiko tinggi. Pencegahan terbaik dimulai bahkan sebelum kehamilan. Kontrol rutin ke dokter kandungan adalah kunci utama.

1. Tindakan Pencegahan Medis

  • Aspirin Dosis Rendah: Bagi wanita dengan risiko tinggi, misalnya riwayat preeklampsia sebelumnya atau hipertensi kronis, dokter mungkin merekomendasikan konsumsi aspirin dosis rendah setiap hari, dimulai dari akhir trimester pertama.
  • Suplemen Kalsium: Pada beberapa wanita yang asupan kalsiumnya rendah, suplementasi kalsium dapat membantu menurunkan risiko kondisi ini.

2. Gaya Hidup Sehat

  • Kontrol Berat Badan: Menjaga berat badan ideal sebelum hamil sangat penting, karena obesitas adalah faktor risiko utama.
  • Kelola Penyakit Kronis: Jika Anda menderita hipertensi atau diabetes, pastikan kondisi tersebut terkontrol dengan baik sebelum dan selama kehamilan.
  • Tidak Mengonsumsi Rokok dan Alkohol: Hindari paparan rokok dan alkohol untuk menjaga tekanan darah tetap stabil dan mendukung kesehatan kehamilan secara optimal.
  • Pola Makan Sehat: Terapkan pola makan gizi seimbang, kurangi garam berlebih, dan konsumsi makanan kaya antioksidan.
  • Rutin Kontrol Kehamilan: Ini adalah cara pencegahan paling efektif. Melalui Antenatal Care (ANC) yang rutin, dokter dapat memantau tekanan darah dan kondisi urine Anda, sehingga tanda-tanda awal preeklampsia dapat terdeteksi dan ditangani sedini mungkin.

Baca Juga: 5 Penyebab Keguguran Berulang dan Pengobatannya

Preeklampsia adalah kondisi serius yang membutuhkan diagnosis dan penanganan cepat dari dokter spesialis kandungan. Jika Anda sedang merencanakan kehamilan atau sedang hamil dan memiliki kekhawatiran tentang risiko komplikasi kehamilan, jangan ragu untuk berkonsultasi di Klinik BAMED.

Tim dokter di Klinik BAMED siap membantu Anda. Segera jadwalkan konsultasi Anda dengan Layanan Spesialis Obstetri dan Ginekologi kami untuk mendapatkan pemantauan kehamilan terbaik demi kesehatan Anda dan buah hati.