Beranda > 10 Cara Ampuh Mengatasi GTM pada Anak Tanpa Drama!

10 Cara Ampuh Mengatasi GTM pada Anak Tanpa Drama!

10 Cara Ampuh Mengatasi GTM pada Anak Tanpa Drama!

Ditinjau oleh: dr. Fatimatuzzuhroh, Sp.A

Menghadapi anak yang tiba-tiba menolak makan adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi orang tua. Momen makan yang seharusnya menyenangkan bisa berubah menjadi penuh drama, kekhawatiran, dan bahkan stres bagi anak dan orang tua. Fenomena ini dikenal dengan istilah GTM atau gerakan tutup mulut.

GTM pada anak bukan hanya sekadar pilih-pilih makanan, tetapi sebuah penolakan aktif terhadap makanan yang ditawarkan. Sebagai orang tua, wajar jika Anda merasa khawatir akan kecukupan gizi dan tumbuh kembang si kecil. 

Namun, jangan khawatir, artikel ini akan membahas tuntas mengenai GTM, mulai dari penyebabnya hingga 10 tips ampuh untuk mengatasinya secara efektif dan minim drama.

Baca Juga: Tumbuh Kembang Anak: Panduan Lengkap untuk Orang Tua

Apa Itu GTM pada Anak?

GTM adalah singkatan dari gerakan tutup mulut. Istilah ini sangat populer di kalangan orang tua untuk menggambarkan perilaku anak, biasanya pada usia di bawah tiga tahun yang menolak makan dengan cara menutup mulutnya rapat-rapat, memalingkan wajah, atau bahkan menangis ketika disuapi.

Perilaku ini bisa terjadi secara tiba-tiba atau bertahap. Sebenarnya, GTM pada anak merupakan bagian normal dari fase perkembangan mereka. Pasalnya, kondisi ini adalah cara mereka menunjukkan kemandirian dan keinginan untuk mengontrol apa yang masuk ke dalam tubuh mereka.

Meski demikian, GTM yang berlangsung lama tentu membuat orang tua cemas. Kekhawatiran utama adalah asupan nutrisi yang tidak memadai, yang dapat berpotensi memengaruhi berat badan dan pertumbuhan si kecil.

Penyebab GTM pada Anak

GTM pada anak jarang sekali terjadi tanpa alasan. Dengan mengetahui penyebabnya, kita bisa menentukan pendekatan yang paling tepat. Secara umum, berikut adalah beberapa faktor yang bisa memicu anak melakukan GTM.

1. Masalah Fisik atau Medis

Terkadang, penolakan makan adalah sinyal bahwa anak sedang merasa tidak nyaman secara fisik. Penyebab paling umum adalah tumbuh gigi, di mana gusi terasa nyeri dan bengkak sehingga membuat aktivitas mengunyah menjadi tidak nyaman.

Selain itu, perhatikan juga kemungkinan adanya sariawan, sakit tenggorokan, atau masalah pencernaan seperti sembelit atau refluks asam lambung. Jika anak juga menunjukkan gejala demam atau lesu, bisa jadi ia sedang sakit.

2. Bosan dengan Menu Makanan

Sama seperti orang dewasa, anak-anak juga bisa merasa bosan jika disajikan menu yang sama saja setiap hari. Monoton dalam tekstur, rasa, dan tampilan makanan dapat menurunkan minat makan mereka.

Anak sedang dalam fase eksplorasi, dan ini juga berlaku untuk makanan. Mereka membutuhkan variasi untuk merangsang indra pengecap dan visual mereka.

3. Terlalu Banyak Distraksi

Ini adalah salah satu penyebab paling umum di era digital. Memberikan gadget, menyalakan televisi, atau membiarkan mainan berserakan di sekitar area makan dapat mengalihkan fokus anak sepenuhnya.

Ketika atensi mereka terbagi, mereka tidak fokus pada aktivitas makan. Mereka mungkin tidak merasakan sinyal lapar dan kenyang, atau sekadar merasa lebih tertarik pada layar daripada makanan di depan mereka.

4. Tekanan saat Makan (Force-Feeding)

Apakah Anda sering memaksa anak untuk menghabiskan makanannya? Atau mungkin mengancam dan memarahi jika ia tidak mau makan? Praktik force-feeding atau memberi tekanan berlebihan saat makan justru berdampak kontraproduktif.

Tekanan ini menciptakan asosiasi negatif terhadap makanan. Bagi anak, waktu makan menjadi momen yang menakutkan dan penuh stres, bukan lagi menyenangkan. Hal ini dapat memicu trauma yang membuat GTM pada anak semakin parah.

5. Sudah Kenyang

Penyebab GTM pada anak bisa jadi sesederhana karena ia memang sudah kenyang. Perut anak jauh lebih kecil dari orang dewasa. Jika ia terlalu banyak minum susu atau mengonsumsi camilan yang terlalu dekat dengan waktu makan utama, wajar jika ia menolak makan.

Baca Juga: Jadwal Imunisasi Anak Lengkap sesuai Anjuran IDAI

Cara Mengatasi GTM pada Anak

Setelah memahami berbagai kemungkinan penyebabnya, kini saatnya menerapkan strategi yang tepat. Kunci utama dalam mengatasi GTM pada anak adalah kesabaran, konsistensi, dan kreativitas.

Berikut adalah 10 tips yang bisa Anda terapkan untuk membuat suasana makan kembali menyenangkan.

1. Terapkan Jadwal Makan yang Teratur

Konsistensi adalah kunci. Terapkan jadwal yang teratur untuk 3 kali makan utama dan 2 kali camilan sehat setiap hari. Hindari memberikan makanan atau minuman selain air putih di luar jadwal tersebut.

Jadwal yang teratur membantu jam biologis tubuh anak. Ini melatih tubuhnya untuk mengenali rasa lapar dan kenyang pada waktu yang seharusnya, sehingga ia akan lebih siap saat waktu makan tiba.

2. Ciptakan Suasana Makan Menyenangkan

Jadikan waktu makan sebagai momen keluarga yang hangat dan bebas stres. Ajak anak makan bersama di meja makan jika memungkinkan. Makan bersama di kebun seperti piknik juga dapat membuat suasana makan menyenangkan. Hindari memarahi, membentak, atau menunjukkan ekspresi kecewa jika anak menolak makan. Semakin santai Anda, semakin kecil kemungkinan anak merasa tertekan.

3. Variasikan Menu Makanan

Jangan menyerah jika anak menolak makanan baru. Menurut tinjauan penelitian oleh Spill dkk. (2019), anak sering membutuhkan 8–10 kali paparan sebelum mau mencoba dan menerima suatu makanan. Jadi, penolakan awal adalah hal yang normal dan bagian dari proses adaptasi.

Untuk membantu proses ini, Anda bisa membuat pengalaman makan lebih menarik. Variasikan menu, tekstur, dan penyajian. Misalnya membuat bentuk bintang pada nasi atau memotong sayuran seperti bunga. Pendekatan visual yang menyenangkan bisa meningkatkan rasa penasaran anak dan membuatnya lebih terbuka pada makanan baru.

4. Sajikan dalam Porsi Kecil

Melihat piring yang penuh terisi makanan bisa terasa menakutkan bagi anak. Hal ini bisa langsung membuatnya kehilangan selera makan, bahkan sebelum mencoba.

Mulailah dengan porsi yang lebih kecil. Jauh lebih baik jika ia berhasil menghabiskan porsi kecilnya dan meminta tambah, daripada ia frustrasi melihat porsi besar yang tidak habis. Menghabiskan porsi kecil juga memberinya rasa pencapaian.

5. Hindari Distraksi

Terapkan aturan “No Screen Time” secara tegas saat makan. Matikan TV, jauhkan smartphone dan tablet, serta singkirkan mainan dari meja makan.

Distraksi membuat anak tidak fokus pada makanannya. Mereka perlu belajar untuk berkonsentrasi pada apa yang mereka kunyah dan mengenali sinyal kenyang dari tubuh mereka sendiri.

Baca Juga: Perkembangan Motorik Anak yang Perlu Dipahami Orang Tua

6. Libatkan Anak dalam Proses Menyiapkan Makanan

Untuk anak yang usianya sudah mencukupi, ajak mereka terlibat dalam proses persiapan. Biarkan mereka ikut berbelanja memilih bahan makanan, membantu mencuci sayuran, mengaduk adonan dengan pengawasan, atau memilih menu yang akan dimasak, tentunya dengan pengawasan.

Ketika anak merasa dilibatkan dan memiliki andil dalam makanan tersebut, rasa penasarannya akan tumbuh. Ia akan lebih bangga dan termotivasi untuk mencicipi hasil karyanya.

7. Jangan Memaksa, Menghukum, atau Memberikan Iming-iming Hadiah

Ini adalah aturan penting. Memaksa atau menghukum anak karena tidak mau makan hanya akan menciptakan trauma dan merusak hubungan positif anak dengan makanan. Begitu juga dengan memberi iming-iming hadiah tertentu jika anak mau makan. Hal itu akan membentuk hubungan tak sehat dengan makanan.

Anak mungkin akan termotivasi untuk makan, namun ini bersifat eksternal dan sementara. Di kemudian hari, anak mungkin melanjutkan makan dengan emosi. Misal mencari comfort food, atau menganggap makanan manis sebagai “hadiah” dan makanan sehat menjadi hukuman.

Hargai keputusannya. Jika ia benar-benar menolak, terima keputusannya dengan tenang. Sampaikan, “Baik, sepertinya Adik sudah selesai makan,” lalu angkat piringnya tanpa drama.

8. Batasi Durasi Makan

Jangan biarkan waktu makan berlarut-larut hingga berjam-jam. Tetapkan durasi makan yang wajar, misalnya maksimal 30 menit. Jika setelah 30 menit makanan belum habis sudahi waktu makan. Ini mengajarkan anak untuk makan secara efektif dan disiplin pada waktunya.

9. Berikan Jarak Antara Susu/Camilan dan Makan Besar

Seperti yang dibahas sebelumnya, anak yang kenyang tidak akan mau makan. Pastikan Anda memberi jeda yang cukup, setidaknya 2 jam, antara waktu camilan atau minum susu dengan jadwal makan besarnya.

Prioritaskan makanan padat terlebih dahulu. Jika anak sudah berusia di atas 1 tahun, asupan susu sebaiknya dibatasi agar tidak mengambil jatah makanan utama. Jika tidak mau makan, susu tidak boleh diberikan sebagai pengganti makanan, kecuali pada kondisi medis tertentu.

10. Jadilah Contoh yang Baik

Anak adalah peniru ulung. Mereka mengamati apa yang orang tuanya lakukan. Jika Anda ingin anak Anda makan sayur, Anda juga harus menunjukkan bahwa Anda menikmati makan sayur.

Duduk dan makanlah bersama mereka sesering mungkin. Tunjukkan antusiasme Anda terhadap makanan sehat. “Wah, brokoli ini renyah dan enak sekali!” perilaku positif ini akan jauh lebih efektif daripada paksaan. Pembahasan mengenai makanan dan pola makan sehat dapat dilakukan dengan membacakan buku cerita tentang makanan yang menarik.

Kesimpulan

Mengatasi GTM pada anak memang membutuhkan kesabaran ekstra, namun ini adalah fase yang bisa dilewati. Ingatlah untuk tetap konsisten dengan aturan yang Anda buat dan selalu berikan apresiasi ketika anak mau mencoba, meskipun hanya sedikit.

Namun, jika masalah GTM pada anak tak kunjung membaik, disertai dengan penurunan berat badan yang drastis, atau Anda mengkhawatirkan adanya masalah medis yang mendasari, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis anak.

Tim dokter di Layanan Spesialis Anak Klinik BAMED siap membantu Anda mengevaluasi status gizi dan tumbuh kembang si kecil. Dokter spesialis anak akan membantu mencari akar permasalahan dan memberikan solusi nutrisi yang paling tepat agar si kecil dapat tumbuh optimal.