Beranda > Jenis-Jenis Jerawat dan Cara Mengatasinya dengan Tepat

jenis-jenis jerawat

Jenis-Jenis Jerawat dan Cara Mengatasinya dengan Tepat

Ditinjau oleh : dr. Jimmi Chandra, Sp.D.V.E

Jerawat seringkali menjadi musuh bagi banyak orang, terutama remaja. Selain mengganggu penampilan, jerawat juga dapat menurunkan kepercayaan diri. Namun, Anda tidak perlu khawatir karena jerawat dapat diatasi dengan perawatan yang tepat. 

Artikel ini akan membahas berbagai jenis jerawat yang sering muncul, penyebabnya, serta solusi yang tepat untuk mengatasi masalah kulit yang satu ini. Dengan informasi yang lengkap ini, Anda dapat memilih perawatan yang sesuai dengan jenis jerawat Anda dan mendapatkan kulit yang sehat kembali.

Key Summaries

  • Jerawat memiliki beberapa jenis seperti pustula, papula, jerawat kistik, jerawat batu, hingga jenis yang lebih serius seperti conglobata dan fulminans, masing-masing dengan ciri dan tingkat keparahan berbeda
  • Penyebab utama jerawat umumnya berasal dari kombinasi produksi minyak berlebih, penumpukan sel kulit mati, penyumbatan pori, serta infeksi bakteri dan faktor hormon
  • Jenis jerawat yang lebih dalam (seperti kistik dan batu) cenderung lebih nyeri, sulit ditangani sendiri, dan berisiko meninggalkan bekas luka permanen
  • Penanganan jerawat harus disesuaikan dengan jenis dan tingkat keparahannya, mulai dari perawatan dasar hingga penggunaan obat dengan bahan aktif tertentu
  • Perawatan rutin seperti menjaga kebersihan kulit, memilih skincare non-komedogenik, dan menghindari kebiasaan memencet jerawat sangat penting untuk mencegah kondisi makin parah

Mengenal Berbagai Jenis Jerawat dan Penyebabnya

Jerawat, masalah kulit yang sering mengganggu, sebenarnya memiliki beragam jenis. Masing-masing jenis memiliki ciri khas dan penyebab yang berbeda. Berikut adalah penjelasan dan penyebab masing-masing jerawat berdasarkan jenisnya.

1. Pustula

Jerawat pustula merupakan salah satu jenis jerawat yang cukup umum dialami. Kondisi ini muncul ketika pori-pori kulit kita tersumbat oleh sel-sel kulit mati dan minyak berlebih, kemudian terinfeksi oleh bakteri. Akibatnya, timbul benjolan merah yang meradang dan berisi nanah pada bagian tengahnya. Nanah inilah yang membuat pustula terlihat seperti memiliki “kepala putih”.

Pustula sering muncul di area wajah yang banyak menghasilkan minyak, seperti dahi, hidung, dan dagu. Penyebab utama munculnya pustula adalah kombinasi antara produksi minyak berlebih, penumpukan sel kulit mati, dan infeksi bakteri.

Baca Juga: 10 Cara Perawatan Jerawat Wajah yang Wajib Diketahui

2. Papula

Papula jenis jerawat yang muncul sebagai benjolan merah tanpa adanya nanah di tengahnya, berbeda dengan jerawat pustula. Munculnya jerawat papula ini disebabkan oleh penyumbatan pori-pori akibat penumpukan sel kulit mati yang berlebihan. Ketika pori-pori tersumbat, folikel rambut di bawah kulit menjadi meradang dan menimbulkan benjolan kecil yang kita kenal sebagai jerawat papula.

Kondisi ini sering terjadi ketika kita mengabaikan komedo yang muncul, baik komedo putih maupun komedo hitam. Selain itu, perubahan hormon juga menjadi salah satu faktor pemicu munculnya jerawat papula. Fluktuasi hormon yang terjadi pada remaja saat pubertas, wanita menjelang menstruasi, atau ibu hamil dapat memicu produksi minyak berlebih pada kulit sehingga menyumbat pori-pori dan memicu peradangan.

3. Jerawat Kistik

Jerawat kistik merupakan salah satu jenis jerawat yang muncul akibat akumulasi sel-sel kulit mati serta produksi sebum yang berlebihan di dalam folikel rambut. Jenis jerawat ini ditandai oleh benjolan besar yang tampak merah di bawah permukaan kulit, sering kali menyerupai bisul. Ciri-ciri yang menyertai jerawat kistik meliputi rasa nyeri, kemerahan, serta adanya peradangan, di mana benjolan tersebut biasanya juga berisi nanah. Apabila terjadi infeksi bakteri pada lapisan kulit terluar, ukuran jerawat kistik ini dapat meningkat seiring dengan berkembangnya kondisi tersebut.

4. Jerawat Batu

Salah satu jenis jerawat yang sering dijumpai adalah jerawat nodulokistik, yang juga dikenal dengan sebutan jerawat batu. Berbeda dengan jerawat biasa, jerawat batu cenderung tumbuh lebih dalam di bawah lapisan kulit, sehingga membentuk benjolan keras dan berwarna merah. Benjolan ini tidak seperti jerawat yang berisi nanah, sehingga sulit untuk diperas atau dipecahkan.

Meski begitu, jerawat batu tetap terasa nyeri dan dapat menyebabkan peradangan yang cukup parah. Jika tidak ditangani dengan tepat, jerawat batu dapat meninggalkan bekas luka yang cukup dalam dan mengganggu penampilan.

5. Jerawat Conglobata

Jerawat conglobata ditandai dengan adanya sejumlah benjolan yang saling berhubungan di bawah kulit serta nodul yang mengalami peradangan. Jenis jerawat ini biasanya muncul di area wajah, dada, punggung, bokong, dan leher. Berbagai faktor dapat memicu munculnya jerawat conglobata, seperti peningkatan kadar hormon testosteron, efek samping dari penggunaan obat-obatan steroid, serta kondisi autoimun. Karena sifatnya yang lebih parah, jerawat ini dapat menyebabkan dampak yang lebih signifikan bagi penderitanya, baik secara fisik maupun emosional.

6. Jerawat Fulminans

Jerawat fulminans adalah jenis jerawat yang paling serius dan memerlukan penanganan medis segera dari Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika. Tipe jerawat ini dapat muncul secara tiba-tiba dan menyebar ke seluruh bagian tubuh.Jerawat fulminans sering kali disertai dengan gejala-gejala seperti nyeri otot, demam, kelelahan, keluarnya darah dari jerawat, serta pembengkakan pada hati dan limpa. Penyebab pasti dari jerawat fulminans masih belum diketahui, banyak ahli percaya bahwa kondisi ini mungkin dipicu oleh tingginya kadar hormon testosteron dalam tubuh.

Baca Juga: 7 Cara Ampuh Menghilangkan Bekas Jerawat, Kulit Kembali Bersih!

Cara Mengatasi Jerawat

Mengatasi jerawat merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan dan keindahan kulit. Cara mengatasi jerawat dapat disesuaikan dengan tingkat keparahan dan jenis jerawat yang dialami. Secara umum, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah kulit yang satu ini:

  • Menjaga kebersihan kulit: Rutin mencuci wajah dengan pembersih yang lembut dan sesuai dengan jenis kulit dapat membantu mengangkat minyak berlebih, kotoran, dan sel kulit mati yang menyumbat pori-pori.
  • Memilih produk perawatan kulit yang tepat: Penggunaan produk perawatan kulit yang berlabel “oil-free” dan “non-comedogenic” dapat membantu mencegah penyumbatan pori-pori dan munculnya jerawat baru.
  • Melindungi kulit dari sinar matahari: Penggunaan tabir surya dengan SPF yang cukup dapat melindungi kulit dari kerusakan akibat sinar matahari dan mencegah peradangan yang dapat memperburuk kondisi jerawat.
  • Mengatur pola makan: Beberapa makanan, seperti makanan olahan, makanan manis, dan makanan berlemak tinggi, dapat memicu munculnya jerawat. Oleh karena itu, penting untuk membatasi konsumsi makanan-makanan tersebut.
  • Hindari memencet jerawat: Memencet jerawat dapat menyebabkan infeksi dan meninggalkan bekas luka.
  • Menggunakan obat-obatan: Obat jerawat yang mengandung bahan aktif seperti benzoyl peroxide, asam salisilat, dan retinoid dapat membantu mengurangi peradangan dan membunuh bakteri penyebab jerawat. Obat-obatan ini dapat diperoleh dalam bentuk krim, gel, atau lotion.

Jika Anda telah mencoba berbagai cara namun jerawat tidak kunjung membaik, sebaiknya segera konsultasikan dengan Dokter Spesialis Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika di Klinik BAMED. Dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh dan memberikan penanganan yang tepat sesuai dengan jenis dan penyebab jerawat.

FAQ

1. Apakah semua jerawat boleh diobati dengan cara yang sama?

Tidak. Setiap jenis jerawat butuh pendekatan berbeda, misalnya jerawat ringan bisa menggunakan skincare, tapi jerawat parah perlu penanganan dokter.

2. Kenapa jerawat sering muncul di area tertentu saja?

Biasanya terkait produksi minyak berlebih, hormon, atau kebiasaan tertentu (misalnya sering menyentuh wajah atau penggunaan produk yang tidak cocok).

3. Apakah jerawat bisa sembuh tanpa skincare atau obat?

Bisa, tapi biasanya lebih lama. Tanpa perawatan, risiko bekas jerawat dan peradangan juga lebih tinggi.

4. Kapan harus ke dokter untuk jerawat?

Kalau jerawat sudah parah, nyeri, menyebar luar, atau tidak membaik setelah perawatan mandiri, sebaiknya langsung konsultasi.

5. Apakah makanan benar-benar memengaruhi jerawat?

Iya, beberapa jenis makanan seperti tinggi gula dan lemak bisa memicu atau memperparah jerawat pada sebagian orang.