Beranda > Tes Medis yang Wajib Dilakukan Sebelum Program Hamil

program hamil

Tes Medis yang Wajib Dilakukan Sebelum Program Hamil

Ditinjau oleh : dr. Indra, Sp.OG, FICS

Kehamilan adalah tahap penting dalam kehidupan seorang wanita yang memerlukan persiapan matang. Tidak hanya kesiapan mental dan finansial, tetapi juga kondisi kesehatan yang optimal agar proses kehamilan dan persalinan berjalan lancar. Pemeriksaan kesehatan sebelum hamil menjadi langkah awal yang penting untuk memastikan tubuh siap menghadapi perubahan selama masa kehamilan.

Sebelum merencanakan program kehamilan, calon ibu disarankan menjalani check-up pra-kehamilan ke dokter kandungan. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi kemungkinan masalah kesehatan yang dapat berdampak pada ibu maupun bayi, dan juga penting untuk mengidentifikasi risiko medis yang mungkin mempengaruhi kehamilan, sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan sejak dini.

Pentingnya Tes Medis Sebelum Program Hamil

Tes medis sebelum menjalani program kehamilan berperan penting dalam memastikan kesehatan calon ibu dan ayah. Pemeriksaan ini membantu mendeteksi risiko kesehatan yang bisa mempengaruhi kehamilan, termasuk riwayat penyakit, infeksi, atau masalah kesuburan. Dengan informasi yang diperoleh, dokter dapat memberikan saran serta perawatan yang tepat agar proses kehamilan berjalan lancar.

Selain itu, tes medis juga berfungsi untuk mengidentifikasi potensi komplikasi, seperti diabetes gestasional, preeklampsia, atau kelahiran prematur. Dengan mengetahui risiko ini sejak awal, langkah pencegahan dapat dirancang lebih optimal guna meningkatkan peluang kehamilan yang sehat.

Jenis Tes Medis yang Harus Dilakukan

Setiap pasangan yang merencanakan kehamilan perlu memastikan bahwa kondisi kesehatan mereka dalam keadaan optimal. Berbagai tes medis dapat membantu mendeteksi risiko yang mungkin mempengaruhi kesuburan serta kesehatan ibu dan bayi di masa depan. Berikut adalah enam pemeriksaan penting yang sebaiknya dilakukan sebelum memulai program kehamilan:

1. Tes Darah dan Analisis Genetik

Tes darah merupakan pemeriksaan dasar yang dapat memberikan banyak informasi penting. Selain untuk mengetahui kadar hemoglobin dan mendeteksi anemia, tes ini juga dapat mengidentifikasi adanya infeksi seperti HIV, hepatitis B, dan sifilis. Selain itu, analisis genetik berguna untuk mengetahui apakah calon orang tua memiliki kelainan genetik yang berpotensi diturunkan kepada bayi, seperti talasemia atau sindrom Down. Jika ditemukan risiko tertentu, dokter dapat memberikan saran terbaik untuk mengurangi dampaknya terhadap kehamilan.

2. Pemeriksaan Hormon dan Fungsi Tiroid

Hormon memiliki peran besar dalam kesuburan dan kehamilan. Tes hormon seperti FSH (Follicle Stimulating Hormone), LH (Luteinizing Hormone), prolaktin, serta hormon tiroid sangat penting untuk mengetahui apakah keseimbangan hormon dalam tubuh sudah optimal. Gangguan tiroid, baik hipotiroidisme maupun hipertiroidisme, dapat meningkatkan risiko keguguran, persalinan prematur, serta mempengaruhi perkembangan otak janin.

3. USG Transvaginal dan Tes Ginekologi

Pemeriksaan USG transvaginal membantu mengevaluasi kondisi rahim dan ovarium. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi adanya mioma, kista, atau gangguan lainnya yang bisa mempengaruhi peluang kehamilan. Sementara itu, tes ginekologi, termasuk pap smear, bertujuan untuk mendeteksi infeksi atau kondisi seperti HPV yang dapat meningkatkan risiko kanker serviks. Mengetahui kondisi kesehatan reproduksi sejak dini akan membantu dalam perencanaan kehamilan yang lebih aman.

4. Tes Infeksi TORCH dan Penyakit Menular Seksual (PMS)

TORCH merupakan singkatan dari Toxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes. Infeksi ini bisa berbahaya bagi janin karena berisiko menyebabkan keguguran, cacat lahir, atau gangguan perkembangan. Lalu, pemeriksaan penyakit menular seksual seperti gonore, klamidia, dan sifilis juga penting, karena infeksi ini bisa menular kepada bayi selama kehamilan atau persalinan. Jika ditemukan infeksi, pengobatan yang tepat dapat diberikan untuk mencegah komplikasi serius.

Baca Juga: Endometriosis: Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya

5. Tes Glukosa dan Pemeriksaan Metabolik

Pemeriksaan kadar gula darah sangat disarankan bagi calon ibu, terutama yang memiliki riwayat diabetes atau obesitas. Diabetes selama kehamilan dapat meningkatkan risiko komplikasi seperti preeklampsia, bayi dengan berat badan berlebih, atau bahkan kelahiran prematur. Selain itu, pemeriksaan metabolik yang meliputi kadar kolesterol dan tekanan darah juga perlu dilakukan untuk memastikan calon ibu dalam kondisi sehat sebelum hamil.

6. Analisis Sperma untuk Calon Ayah

Kesuburan bukan hanya tanggung jawab perempuan. Bagi calon ayah, tes analisis sperma menjadi pemeriksaan yang sangat penting untuk menilai kualitas dan kuantitas sperma. Tes ini akan mengevaluasi jumlah, bentuk, serta pergerakan sperma, yang semuanya berpengaruh terhadap keberhasilan pembuahan. Jika ditemukan gangguan, dokter dapat merekomendasikan langkah-langkah untuk meningkatkan kualitas sperma melalui perubahan gaya hidup atau pengobatan tertentu.

Kapan Harus Melakukan Tes Medis untuk Program Hamil?

Menjalani tes medis sebelum merencanakan kehamilan sangat penting untuk memastikan kondisi kesehatan optimal bagi calon ibu dan ayah. Pemeriksaan ini membantu mendeteksi serta menangani potensi masalah yang dapat mempengaruhi kesuburan atau kehamilan. 

1. Kapan Sebaiknya Melakukan Tes Medis

Tes medis idealnya dilakukan 3 hingga 6 bulan sebelum mulai program hamil. Waktu ini memungkinkan dokter untuk mengevaluasi hasil tes, memberikan pengobatan jika diperlukan, serta merekomendasikan perubahan gaya hidup guna mendukung kehamilan yang sehat. Jika ada riwayat penyakit atau masalah kesuburan, sebaiknya konsultasi dilakukan lebih awal agar mendapat penanganan yang tepat.

2. Pemeriksaan yang Perlu Dilakukan

Pemeriksaan kesehatan sebelum kehamilan melibatkan berbagai tes, baik untuk calon ibu maupun ayah. Beberapa di antaranya meliputi pemeriksaan kadar hormon, kondisi organ reproduksi, serta kemungkinan adanya kelainan struktural. Selain itu, konsultasi dengan dokter juga diperlukan sebelum mengonsumsi obat penyubur atau suplemen tertentu.

3. Waktu yang Tepat untuk Konsultasi Program Hamil

Jika seorang wanita berusia lebih dari 35 tahun, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter kandungan saat merencanakan kehamilan. Sementara itu, bagi yang berusia di bawah 35 tahun, konsultasi bisa dilakukan setelah satu tahun mencoba hamil secara alami. Pemeriksaan lebih lanjut juga dapat dijadwalkan pada hari ke-10 sejak hari pertama menstruasi, atau sesuai arahan dokter.

Apa Saja yang Diperiksa Saat Program Hamil?

Dokter akan melakukan berbagai evaluasi guna meningkatkan peluang kehamilan yang sehat dan sukses. Berikut aspek utama pemeriksaan yang perlu diperhatikan:

1. Evaluasi Kesehatan Pasangan Sebelum Program Hamil 

Sebelum memulai program kehamilan, dokter akan mengevaluasi beberapa faktor penting, seperti:

  • Kesehatan reproduksi calon ibu dan ayah.
  • Riwayat kesehatan keluarga untuk mengetahui kemungkinan adanya faktor genetik yang berpengaruh.
  • Gaya hidup dan kebiasaan sehari-hari, termasuk pola makan, olahraga, dan kebiasaan merokok atau konsumsi alkohol.
  • Keseimbangan hormon dan tingkat stres, karena dapat mempengaruhi kesuburan.

Melalui pemeriksaan ini, calon orang tua bisa lebih siap secara fisik dan mental. Konsultasi dengan dokter sejak awal juga membantu dalam menentukan langkah terbaik untuk meningkatkan peluang kehamilan yang sehat.

2. Pemeriksaan Kesuburan pada Pria dan Wanita 

Setelah evaluasi awal, dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada kedua pasangan:

Pada Pria:

  • Analisis sperma untuk menilai jumlah, pergerakan, dan bentuk sperma. Sebaiknya pria tidak melakukan ejakulasi selama 3-5 hari sebelum pemeriksaan ini agar hasilnya lebih akurat.
  • Menurut standar WHO, jumlah sperma yang sehat adalah lebih dari 15 juta per mililiter dengan pergerakan cepat di atas 32% dan bentuk normal minimal 4%.
  • Untuk program bayi tabung, teknologi Intracytoplasmic Morphologically-selected Sperm Injection (IMSI) digunakan untuk memilih sperma terbaik sebelum penyuntikan ke sel telur.

Pada Wanita:

  • Dokter akan menanyakan riwayat kesehatan, pola menstruasi, serta kemungkinan adanya perdarahan di luar siklus menstruasi.
  • Pemeriksaan ginekologi dan USG transvaginal untuk mengevaluasi kondisi rahim dan indung telur, serta mendeteksi kemungkinan kelainan seperti mioma, polip, atau kista.
  • Histerosalpingografi (HSG) dilakukan pada hari kedua atau ketiga menstruasi untuk melihat kondisi saluran telur dan memastikan tidak ada penyumbatan.
  • Pemeriksaan ini biasanya dapat dilakukan dalam 1-2 kali kunjungan, sehingga dokter dapat segera menentukan langkah selanjutnya dalam program kehamilan pasangan.

Baca Juga: Cara Meredakan Nyeri Haid dengan Akupunktur

3. Pemeriksaan Tambahan Selama Program Hamil 

Selain pemeriksaan awal, dokter juga akan melakukan beberapa tes medis tambahan selama program kehamilan:

  • USG kehamilan untuk memantau perkembangan janin.
  • Tes darah dan urine rutin guna mendeteksi potensi masalah kesehatan selama kehamilan.
  • Skrining genetik untuk mengetahui risiko kelainan genetik pada bayi.

Melalui pemeriksaan menyeluruh ini, pasangan dapat memperoleh informasi lengkap tentang kesehatan reproduksi mereka. Persiapan yang baik akan membantu meningkatkan peluang keberhasilan program kehamilan serta memastikan kondisi ibu dan bayi tetap sehat sepanjang proses kehamilan. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter guna mendapatkan arahan dan penanganan yang tepat sesuai dengan kondisi masing-masing.

 

Pemeriksaan kesehatan sebelum hamil menjadi langkah penting untuk memastikan kehamilan yang sehat dan minim risiko. Dengan menjalani tes medis yang tepat, calon orang tua dapat mengetahui kondisi kesehatan mereka secara menyeluruh dan mengambil langkah preventif yang diperlukan.

Jika Anda berencana untuk memulai program kehamilan, konsultasikan segera dengan dokter spesialis kandungan di Layanan Spesialis Obstetri dan Ginekologi Klinik Bamed untuk mendapatkan pemeriksaan dan arahan medis terbaik demi kehamilan yang aman dan optimal.