Ditinjau oleh: dr. Indra, Sp.O.G, FICS
Bagi banyak ibu hamil, morning sickness menjadi salah satu gejala paling khas di awal kehamilan, terutama di trimester pertama. Meski keluhan ini terdengar biasa saja, kondisi ini sering kali cukup mengganggu aktivitas harian, mulai dari sulit makan, mual berkepanjangan, hingga perubahan sensitivitas terhadap bau.
Jika Anda sedang hamil dan mulai merasakan gejalanya, wajar bila muncul berbagai pertanyaan mengenai apa itu morning sickness dan kapan berakhirnya morning sickness.
Melalui artikel ini, Anda akan memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh tentang penyebab morning sickness, ciri-ciri yang patut diperhatikan, cara mengatasinya, hingga tanda-tanda morning sickness akan berakhir.
Apa Itu Morning Sickness?
Secara sederhana, morning sickness adalah kondisi mual dan muntah yang dialami ibu hamil, terutama pada trimester pertama. Meski diberi nama morning, rasa mual sebenarnya dapat muncul kapan saja, baik pagi, siang, maupun malam. Menurut laman NHS, kondisi ini dapat dialami oleh 8 dari 10 ibu hamil dan merupakan bagian alami dari proses adaptasi tubuh terhadap kehamilan.
Baca Juga: Buah yang Bagus untuk Ibu Hamil Tetap Sehat
Morning Sickness Terjadi Berapa Lama?
Durasi morning sickness berbeda pada setiap kehamilan. Berdasarkan informasi dari Verywell Health, sebagian besar ibu mulai merasakan gejala pada minggu ke-5 atau ke-6, kemudian mencapai puncak pada minggu ke-9. Morning sickness akan mereda menjelang akhir trimester pertama, sekitar minggu ke-12 hingga ke-14. Namun, tidak menutup kemungkinan beberapa ibu hamil mungkin mengalami gejala sedikit lebih lama.
Penyebab Morning Sickness
Berikut adalah beberapa penyebab morning sickness.
1. Perubahan Hormon Kehamilan
Perubahan hormon merupakan penyebab paling dominan dari morning sickness pada trimester pertama. Menurut ACOG, tubuh ibu hamil mengalami peningkatan drastis hormon hCG (human chorionic gonadotropin) sejak awal kehamilan. Lonjakan hCG ini berhubungan langsung dengan frekuensi mual, terutama pada minggu ke-6 hingga ke-12 kehamilan ketika kadarnya berada pada puncak.
Selain itu, hormon estrogen juga meningkat dan membuat sistem penciuman menjadi jauh lebih sensitif. Sensitivitas yang meningkat inilah yang membuat ibu hamil lebih mudah merasa mual ketika mencium aroma tertentu, bahkan yang sebelumnya tidak mengganggu sama sekali.
2. Sensitivitas Terhadap Bau
Peningkatan sensitivitas terhadap bau merupakan gejala umum yang dialami banyak ibu hamil. Perubahan hormonal, terutama kenaikan estrogen, membuat hidung lebih peka sehingga bau yang biasanya biasa saja dapat terasa sangat kuat atau tidak menyenangkan.
Aroma makanan tertentu, parfum, asap rokok, dan bau dari dapur sering kali menjadi pemicu utama rasa mual. Kondisi ini sering disebut sebagai “super smell” pada kehamilan. Akibatnya, ibu hamil mungkin perlu menghindari lingkungan atau aroma tertentu untuk mengurangi gejala morning sickness.
3. Perubahan Sistem Pencernaan
Saat hamil, tubuh menghasilkan lebih banyak hormon progesteron, yang berperan penting dalam menjaga rahim tetap rileks. Namun, progesteron juga memperlambat gerak peristaltik usus, yaitu gerakan otot yang membantu mendorong makanan melalui saluran pencernaan.
Ketika sistem pencernaan bekerja lebih lambat, makanan bertahan lebih lama di lambung sehingga menimbulkan rasa begah, penuh, dan tidak nyaman. Kondisi ini meningkatkan risiko naiknya asam lambung, yang kemudian memperparah rasa mual. Perubahan ritme pencernaan ini wajar, tetapi pada sebagian ibu dapat cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.
4. Faktor Genetik dan Riwayat Kehamilan
Faktor genetik berperan besar dalam menentukan apakah seorang wanita berisiko mengalami morning sickness. Jika ibu, saudara perempuan, atau anggota keluarga terdekat pernah mengalami morning sickness berat, kemungkinan besar kondisi tersebut dapat terjadi kembali pada generasi berikutnya.
Riwayat kehamilan sebelumnya juga menjadi pertimbangan, wanita yang pernah mengalami morning sickness atau hiperemesis gravidarum sebelumnya memiliki peluang lebih tinggi mengalaminya kembali. Hal ini menunjukkan bahwa sensitivitas tubuh terhadap perubahan hormon mungkin bersifat turun-temurun.
5. Kelelahan dan Stres
Kelelahan fisik maupun stres emosional dapat memperburuk gejala mual pada ibu hamil. Ketika tubuh kekurangan energi atau tidak mendapatkan istirahat cukup, respon tubuh terhadap perubahan hormon menjadi lebih sensitif. Stress hormone seperti kortisol juga dapat memengaruhi sistem pencernaan dan memperburuk rasa mual.
Ibu hamil yang terlalu letih atau tertekan lebih mudah mengalami morning sickness yang lebih intens. Oleh karena itu, menjaga kualitas tidur, mengurangi aktivitas berlebih, dan mengelola stres menjadi bagian penting dalam meringankan gejala ini.
Ciri-Ciri Morning Sickness
Meskipun umum terjadi, penting bagi Anda untuk mengenali ciri-ciri morning sickness agar dapat membedakannya dari kondisi lain. Berikut beberapa gejala yang umum dari morning sickness.
1. Mual yang Muncul di Pagi Hari
Gejala paling khas dari morning sickness adalah mual yang muncul terutama saat bangun tidur di pagi hari. Kondisi ini terjadi karena perut masih kosong dan kadar hormon hCG sedang tinggi pada waktu tersebut.
Mual sebenarnya tidak terbatas hanya di pagi hari, tetapi dapat berlangsung hingga siang atau malam tergantung sensitivitas tubuh ibu hamil. Banyak ibu mengira hanya “morning” sickness, padahal rasa mual bisa muncul kapan saja sepanjang hari. Walaupun tidak berbahaya, gejala ini bisa mengganggu aktivitas harian jika terjadi cukup sering.
2. Muntah Berulang
Selain mual, muntah berulang menjadi ciri lain yang umum dirasakan oleh ibu hamil pada trimester pertama. Frekuensinya dapat meningkat ketika perut kosong, setelah makan makanan tertentu, atau saat mencium aroma yang kuat. Muntah berulang terjadi karena respons pencernaan yang lebih sensitif akibat perubahan hormon kehamilan.
Jika terjadi terlalu sering, kondisi ini dapat membuat ibu merasa lelah dan dehidrasi ringan. Penting untuk tetap menjaga asupan cairan agar tubuh tidak kekurangan elektrolit.
3. Sensitif terhadap Aroma
Banyak ibu hamil menjadi sangat sensitif terhadap bau tertentu, bahkan bau yang sebelumnya tidak mengganggu sama sekali. Sensitivitas ini dipengaruhi oleh peningkatan hormon estrogen yang membuat indra penciuman lebih tajam dari biasanya.
Aroma makanan, parfum, asap rokok, hingga bau dapur bisa memicu rasa mual yang lebih intens. Pada beberapa kasus, ibu hamil sampai harus menghindari area tertentu agar gejalanya tidak memburuk. Sensitivitas bau ini biasanya mereda saat memasuki trimester kedua.
4. Perubahan Nafsu Makan
Morning sickness sering kali memengaruhi selera makan, membuat beberapa makanan terasa tidak enak atau bahkan menjijikkan. Perubahan hormon dapat mengacaukan sinyal lapar, sehingga ibu hamil kehilangan nafsu makan dan sulit mengonsumsi makanan tertentu.
Bahkan makanan yang sebelumnya menjadi favorit dapat menimbulkan mual secara tiba-tiba. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan asupan nutrisi jika tidak diatasi dengan memilih makanan yang lebih ringan atau bertekstur lembut. Biasanya, nafsu makan mulai kembali normal setelah tubuh menyesuaikan diri dengan perubahan hormon kehamilan.
5. Lemas dan Tidak Bertenaga
Rasa lemas sering muncul akibat kurangnya asupan makanan atau cairan yang hilang karena muntah. Tubuh yang kekurangan energi cenderung terasa berat dan mudah lelah meskipun hanya melakukan aktivitas ringan.
Selain itu, perubahan hormon juga berkontribusi pada rasa kantuk dan penurunan stamina. Kombinasi faktor fisik dan hormonal ini membuat ibu hamil lebih mudah merasa tidak bertenaga pada trimester pertama. Istirahat yang cukup dan konsumsi makanan kecil namun sering dapat membantu mengurangi keluhan ini.
Baca Juga: Panduan saat Melakukan Pemeriksaan Kehamilan Trimester 1
Cara Mengatasi Morning Sickness
Walaupun morning sickness tidak selalu bisa dihindari, ada beberapa cara mengatasi morning sickness yang dapat membantu meredakan gejala.
1. Makan dalam Porsi Kecil tetapi Sering
Makan dalam porsi kecil tetapi lebih sering dapat membantu menjaga perut tetap terisi tanpa membuatnya bekerja terlalu keras. Kondisi perut kosong sering kali memicu asam lambung meningkat sehingga mual menjadi lebih parah.
Dengan makan sedikit demi sedikit, kadar gula darah juga lebih stabil dan tubuh terasa lebih nyaman. Pilih camilan ringan seperti biskuit tawar, roti panggang, atau buah yang tidak terlalu asam. Cara ini umum direkomendasikan oleh tenaga medis karena terbukti cukup efektif mengurangi morning sickness.
2. Pilih Makanan yang Mudah Dicerna
Makanan rendah lemak dan tidak terlalu berbumbu lebih mudah diterima tubuh ibu hamil. Makanan yang terlalu berminyak atau pedas cenderung memperlambat pencernaan dan meningkatkan sensasi mual.
Karena sistem pencernaan melemah selama kehamilan, makanan sederhana seperti sup bening, nasi putih, atau kentang rebus sering kali lebih nyaman dikonsumsi. Mengurangi makanan berlemak juga membantu mencegah rasa begah setelah makan.
3. Konsumsi Jahe
Jahe telah lama dikenal sebagai bahan alami yang membantu mengurangi mual dan perut tidak nyaman. Jahe cukup efektif meredakan morning sickness ringan hingga sedang karena kandungan senyawa aktif seperti gingerol. Jahe bisa dikonsumsi dalam bentuk teh hangat, permen jahe, atau ditambahkan ke dalam makanan.
Banyak ibu hamil merasa lebih nyaman setelah minum air jahe hangat pada pagi hari. Meski begitu, tetap konsumsi dalam jumlah wajar dan konsultasikan jika Anda memiliki kondisi tertentu.
4. Istirahat yang Cukup
Kelelahan fisik dapat memperburuk rasa mual karena tubuh menjadi lebih sensitif terhadap perubahan hormon. Istirahat yang cukup membantu sistem saraf dan sistem pencernaan bekerja lebih stabil sepanjang hari.
Jika merasa pusing atau mulai mual, sebaiknya hentikan aktivitas dan beristirahat sejenak. Tidur malam yang cukup juga penting untuk memulihkan energi yang hilang selama kehamilan. Banyak ahli kesehatan menekankan bahwa tidur dan relaksasi berkontribusi besar dalam mengurangi intensitas morning sickness.
5. Penuhi Kebutuhan Cairan
Dehidrasi dapat membuat mual semakin buruk, sehingga penting untuk minum secara teratur. Jika sulit minum sekaligus dalam jumlah banyak, cobalah minum sedikit tetapi sering agar tubuh tetap terhidrasi. Anda bisa memilih air putih, teh hangat, air jahe, atau kuah sup untuk membantu menjaga cairan tubuh.
Minuman hangat biasanya lebih mudah diterima oleh ibu hamil dibandingkan minuman dingin. Menjaga hidrasi juga membantu mencegah kelelahan dan menjaga keseimbangan elektrolit.
6. Hindari Pemicu Bau
Banyak ibu hamil memiliki sensitivitas tinggi terhadap aroma tertentu yang dapat memicu atau memperburuk mual. Jika Anda mengetahui bau yang membuat mual, usahakan menjauhinya sebisa mungkin. Misalnya, mintalah pasangan menyiapkan makanan atau buka jendela untuk memperbaiki sirkulasi udara.
Menggunakan kipas kecil atau tisu beraroma lembut juga dapat membantu mengalihkan bau yang tidak nyaman. Strategi ini sangat berguna karena sensitivitas penciuman biasanya meningkat pada trimester pertama.
7. Konsultasi dengan Tenaga Medis
Jika mual sangat mengganggu hingga membuat Anda sulit makan atau minum, segera konsultasikan dengan dokter atau bidan. Tenaga medis dapat memberikan saran yang lebih spesifik sesuai kondisi tubuh Anda, termasuk pemberian suplemen atau obat yang aman. Konsultasi juga membantu memastikan bahwa kondisi ini bukan hiperemesis gravidarum, bentuk mual muntah berat pada kehamilan. Semakin cepat ditangani, semakin baik kondisi ibu dan janin.
Baca Juga: Risiko Hamil di Usia Tua dan Tips Menjaganya
Tanda-Tanda Morning Sickness Akan Berakhir
Setiap ibu hamil memiliki pengalaman yang berbeda. Namun, secara umum, tanda-tanda morning sickness akan berakhir dapat Anda lihat dari pola tubuh Anda sendiri.
1. Nafsu Makan Meningkat secara Bertahap
Salah satu tanda bahwa morning sickness mulai mereda adalah kembalinya nafsu makan secara bertahap. Anda mungkin mulai merasa lapar di pagi hari, sesuatu yang sebelumnya sulit terjadi karena mual. Makanan yang dulu terasa tidak enak atau memicu mual bisa mulai dinikmati lagi.
Kembalinya nafsu makan ini juga membantu tubuh mendapatkan energi yang lebih baik untuk menjalani aktivitas harian. Perubahan positif ini biasanya muncul menjelang akhir trimester pertama, ketika hormon mulai lebih stabil.
2. Berkurangnya Sensitivitas Bau
Ketika morning sickness membaik, sensitivitas berlebihan terhadap bau-bauan biasanya ikut menurun. Aroma makanan, parfum, atau bau dapur yang dulu terasa sangat mengganggu mungkin tidak lagi memicu mual. Hal ini terjadi karena perubahan hormon kehamilan mulai lebih stabil, sehingga sistem penciuman tidak lagi terlalu sensitif.
Banyak ibu hamil melaporkan merasa lebih nyaman berada di dapur atau ruang tertentu yang sebelumnya sulit ditoleransi. Tanda ini menjadi salah satu indikator bahwa tubuh Anda mulai beradaptasi dengan baik terhadap kehamilan.
3. Frekuensi Mual Menurun
Penurunan frekuensi mual merupakan tanda paling jelas bahwa morning sickness hampir berakhir. Mual mungkin masih muncul sesekali, tetapi intensitasnya jauh lebih ringan dibandingkan beberapa minggu sebelumnya. Anda juga mungkin tidak lagi mengalami muntah berulang, terutama di pagi hari.
Tubuh mulai merespons makanan dan bau dengan lebih normal, sehingga aktivitas harian terasa lebih mudah dijalani. Proses ini terjadi secara bertahap, namun menjadi sinyal bahwa kondisi Anda menuju perbaikan.
4. Energi Mulai Pulih
Saat morning sickness mereda, banyak ibu hamil merasakan peningkatan energi yang cukup signifikan. Tubuh terasa lebih segar karena asupan makanan dan cairan mulai kembali normal. Anda mungkin merasa lebih produktif dan mampu kembali menjalani rutinitas tanpa terlalu cepat lelah.
Kembalinya energi juga menandakan bahwa tubuh tidak lagi bekerja terlalu keras menyesuaikan diri dengan perubahan hormon yang ekstrem.
Mayoritas ibu hamil memang mulai merasakan perbaikan gejala sekitar minggu ke-12 hingga 14, periode ketika morning sickness umumnya mulai berakhir.
Kesimpulan
Morning sickness adalah bagian alami dari proses kehamilan, meskipun bisa terasa tidak nyaman. Dengan memahami apa itu morning sickness, penyebab morning sickness, ciri-ciri morning sickness, serta cara mengatasi morning sickness, Anda dapat menghadapi masa ini dengan lebih tenang.
Sebagian besar ibu hamil hanya mengalaminya untuk sementara waktu, dan tanda-tanda morning sickness akan berakhir biasanya muncul memasuki trimester kedua.
Namun, apabila Anda mengalami morning sickness yang parah, Anda dapat berkonsultasi pada dokter spesialis kandungan terbaik di Klinik BAMED pada Layanan Spesialis Obstetri dan Ginekologi untuk mendapatkan pemahaman dan tindakan lebih lanjut, agar Anda dapat menjalani masa kehamilan dengan nyaman dan aman.
FAQ
1. Apakah hamil 1 minggu sudah mulai mual?
Belum. Mual biasanya muncul mulai minggu ke-4 hingga ke-6 saat hormon kehamilan meningkat.
2. Kapan puncak mual saat hamil?
Puncaknya biasanya di minggu ke-8 hingga ke-12, lalu membaik setelah minggu ke-14.
3. Bagaimana cara membedakan mual hamil dan maag?
Mual hamil disertai sensitif bau, telat haid, dan perubahan payudara; mual maag muncul dengan nyeri ulu hati, perut perih, kembung, dan dipicu telat makan atau makanan tertentu.
4. Morning sickness terjadi jam berapa?
Paling sering di pagi hari saat perut kosong, tapi bisa muncul kapan saja sepanjang hari.
