Beranda > Kondisi Plasenta Previa: Penyebab, Gejala dan Penanganannya

plasenta previa

Kondisi Plasenta Previa: Penyebab, Gejala dan Penanganannya

Ditinjau oleh : dr. Laksmi Maharani, SpOG. Subsp. KFM

Kehamilan adalah momen yang sangat dinantikan oleh setiap pasangan. Namun, ada kalanya kehamilan dihadapkan pada berbagai kondisi yang perlu diwaspadai, salah satunya adalah plasenta previa.

Plasenta previa adalah kondisi yang dapat menimbulkan berbagai risiko, baik bagi ibu maupun bayi. Untuk memahami lebih lanjut mengenai plasenta previa, mari kita bahas mengenai penyebab, gejala, dan penanganan yang tepat.

Apa Itu Plasenta Previa?

Plasenta previa adalah kondisi medis yang terjadi saat plasenta menempel di bagian bawah rahim, bukan di bagian atas atau samping seperti pada kehamilan normal. Kondisi ini menyebabkan plasenta dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan rahim yang disebut serviks. Akibatnya, plasenta previa dapat memicu perdarahan hebat pada ibu, baik sebelum, selama, maupun setelah persalinan.

Plasenta sendiri berfungsi sebagai penyedia oksigen dan nutrisi bagi bayi serta membuang sisa metabolisme bayi melalui tali pusat. Ketika plasenta berada terlalu rendah, risiko komplikasi seperti pendarahan meningkat, sehingga penanganan medis yang tepat sangat diperlukan untuk menghindari bahaya pada ibu dan bayi.

Baca Juga: Pentingnya Melakukan USG Fetomaternal Saat Hamil

Penyebab Terjadinya Plasenta Previa

Penyebab pasti dari plasenta previa belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini, termasuk riwayat medis seseorang serta beberapa kebiasaan gaya hidup. Faktor-faktor tersebut dapat berperan dalam meningkatkan kemungkinan plasenta menempel di bagian bawah rahim selama kehamilan, meskipun belum ada penyebab tunggal yang dapat diidentifikasi.

Dari sisi riwayat medis, beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko antara lain pernah menjalani operasi pada rahim seperti operasi caesar, kuret, atau operasi pengangkatan miom. Riwayat kehamilan sebelumnya dengan plasenta previa juga dapat meningkatkan kemungkinan kondisi ini terulang. Selain itu, kehamilan dengan jumlah janin lebih dari satu (kembar dua atau lebih) serta usia kehamilan yang semakin bertambah juga bisa menjadi faktor pemicu.

Sementara itu, dari sisi gaya hidup, kebiasaan merokok dan penggunaan obat-obatan terlarang diketahui dapat memengaruhi kesehatan plasenta dan meningkatkan risiko terjadinya plasenta previa. Faktor gaya hidup lain seperti kehamilan di usia lebih dari 35 tahun, atau sering mengalami kehamilan dengan jarak yang terlalu dekat, juga berhubungan dengan meningkatnya peluang kondisi ini terjadi.

Dengan memahami faktor-faktor tersebut, ibu hamil dapat lebih waspada dan menjaga gaya hidup sehat, serta melakukan pemeriksaan rutin ke dokter kandungan untuk memastikan kondisi kehamilan tetap terpantau dengan baik.

Gejala Plasenta Previa

Salah satu tanda utama plasenta previa adalah perdarahan vagina berwarna merah terang tanpa rasa sakit setelah usia kehamilan 20 minggu. Perdarahan dapat terjadi bersamaan dengan kontraksi rahim sebelum persalinan yang menyebabkan nyeri. Perdarahan juga dapat dipicu oleh aktivitas seksual atau selama pemeriksaan medis. Pada beberapa wanita, perdarahan mungkin tidak terjadi hingga saat persalinan.

Resiko Plasenta Previa pada Ibu Hamil

Jika Anda memiliki plasenta previa, terdapat risiko bagi Anda dan bayi Anda. Komplikasi dari plasenta previa meliputi:

Komplikasi bagi Ibu:

  • Perdarahan: Perdarahan hebat dapat terjadi selama kehamilan, persalinan, atau setelah melahirkan.
  • Kelahiran prematur: Jika Anda mengalami perdarahan hebat, dokter mungkin melakukan operasi caesar darurat sebelum bayi Anda cukup bulan (40 minggu).
  • Kehilangan darah: Anemia, tekanan darah rendah, kulit pucat, atau sesak napas adalah beberapa efek samping dari kehilangan darah terlalu banyak.
  • Plasenta akreta: Plasenta tumbuh terlalu dalam di dinding rahim Anda. Hal ini dapat menyebabkan perdarahan hebat setelah melahirkan.

Komplikasi bagi Bayi:

  • Kelahiran prematur: Jika perdarahan terjadi secara terus-menerus dan Anda memerlukan operasi caesar darurat, bayi Anda mungkin lahir terlalu dini.
  • Berat badan rendah saat lahir: Kesulitan menjaga suhu tubuh dan pertumbuhan berat badan yang buruk adalah potensi efek samping dari berat badan rendah saat lahir.
  • Masalah pernapasan: Paru-paru yang belum berkembang dapat membuat pernapasan lebih sulit.

Cara Mendiagnosa Kondisi Plasenta Previa

Ibu hamil yang mengalami perdarahan harus dirawat di rumah sakit dan menjalani pemeriksaan. Beberapa tes yang digunakan untuk mendiagnosis plasenta previa meliputi:

  • Pemeriksaan ultrasonografi
  • Meraba perut ibu untuk menentukan posisi bayi (bayi berada dalam posisi miring atau bokong terlebih dahulu dalam sekitar sepertiga kasus plasenta previa).

Untuk menghindari perdarahan yang lebih parah, pemeriksaan vagina digital harus dihindari secara ketat pada kasus plasenta previa. Terkadang, sulit untuk membedakan antara plasenta previa dan abrupsio plasenta, yaitu kondisi di mana plasenta terlepas dari dinding rahim. Oleh karena itu, ultrasound scan harus selalu dilakukan terlebih dahulu untuk memastikan letak plasenta, dan apakah plasenta terlepas dari dinding rahim.

Baca Juga: Seputar USG Kehamilan: Persiapan, Prosedur, Hingga Biaya

Deteksi dini plasenta previa sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. Oleh karena itu, sangat disarankan bagi ibu hamil untuk melakukan konsultasi atau pemeriksaan kehamilan secara rutin. Jika Anda memiliki riwayat plasenta previa atau faktor risiko lainnya, konsultasikan dengan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Klinik BAMED untuk mendapatkan penanganan yang lebih intensif.