Beranda > Bahaya Turun Peranakan & Cara Tepat Menanganinya

Bahaya Turun Peranakan & Cara Tepat Menanganinya

Bahaya Turun Peranakan & Cara Tepat Menanganinya

Ditinjau oleh: dr. Cherysa Rifiranda, Sp.O.G

Setiap perempuan tentu berharap masa setelah melahirkan dilalui dengan sehat, nyaman, dan tanpa gangguan berarti pada organ reproduksi. Namun bagi sebagian wanita, terjadi kondisi yang disebut turun peranakan. Kondisi ini tidak hanya membawa rasa tidak nyaman, tapi juga bisa menimbulkan komplikasi serius jika diabaikan.

Anda mungkin merasakan adanya tekanan di area pelvis, kesulitan bergerak leluasa, atau bahkan melihat jaringan tubuh keluar dari vagina. Itu jauh dari kondisi normal dan bisa menjadi tanda peringatan. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk mengenali sejak dini apa itu turun peranakan, penyebab, ciri-ciri, hingga opsi pengobatannya agar kualitas hidup tetap terjaga.

Apa Itu Turun Peranakan?

Turun peranakan adalah kondisi ketika rahim (uterus) turun dari posisi normalnya ke arah liang vagina. Menurut Cleveland Clinic, kondisi ini terjadi karena otot dasar panggul dan jaringan penopang yang seharusnya menjaga posisi rahim mengalami kelemahan. 

Hal serupa juga dijelaskan oleh sebuah artikel di WebMD, bahwa ketika struktur penyangga tidak lagi kuat, rahim dapat turun hingga memasuki vagina, bahkan dalam kasus berat dapat keluar dari lubang vagina. Dengan kata lain, turun peranakan adalah kondisi medis yang nyata, bukan sekadar perasaan “kendor” atau “turun berok” seperti yang sering dipahami masyarakat awam.

Baca Juga: Memahami Vaginoplasty: Prosedur, Manfaat, dan Pemulihan

Penyebab Turun Peranakan

Mengapa kondisi ini bisa terjadi? Berikut adalah beberapa penyebab turun peranakan.

1. Kehamilan dan Persalinan

Proses kehamilan dan persalinan pervaginam merupakan faktor utama penyebab turun peranakan karena otot panggul mengalami tekanan dan peregangan berat. Semakin sering Anda melahirkan, semakin besar kemungkinan terjadinya pelemahan jaringan penopang.

2. Penuaan dan Penurunan Hormon

Setelah menopause, kadar estrogen akan menurun sehingga elastisitas jaringan panggul melemah. Inilah alasan mengapa prolaps uteri lebih umum terjadi pada wanita usia 50 tahun ke atas.

3. Tekanan Berlebih pada Panggul

Dikutip dari NCBI Bookshelf, kebiasaan mengejan akibat sembelit kronis, batuk berkepanjangan, obesitas, atau sering mengangkat beban berat dapat meningkatkan tekanan pada area panggul hingga memicu turunnya rahim.

Derajat Prolaps Uteri (Tingkatan Turun Peranakan)

Kondisi turun peranakan memiliki beberapa tingkatan atau derajat prolaps uteri yang menunjukkan seberapa jauh rahim turun. Berikut penjelasan tentang derajat prolaps uteri.

  • Derajat I

Rahim turun sedikit ke dalam vagina, tetapi posisinya masih jauh dari pembukaan vagina. Biasanya keluhan masih minimal dan sering tidak disadari.

  • Derajat II

Rahim turun hingga mendekati atau menyentuh bibir vagina. Pada tahap ini, gejala seperti rasa berat di panggul atau ketidaknyamanan mulai lebih terasa.

  • Derajat III

Sebagian rahim sudah menonjol keluar dari vagina. Kondisi ini umumnya menimbulkan keluhan yang lebih jelas, seperti nyeri, tekanan, atau gangguan berkemih.

  • Derajat IV

Hampir seluruh rahim keluar dari vagina, disebut juga procidentia. Ini merupakan bentuk prolaps paling berat dan biasanya membutuhkan penanganan medis segera.

Baca Juga: Penyakit Vaginismus: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Ciri-Ciri Turun Peranakan

Beberapa gejala yang sering dilaporkan pada wanita dengan prolaps uteri antara lain:

1. Rasa Berat atau Tekanan di Panggul

Banyak pasien merasakan sensasi seperti ada beban yang menarik ke bawah di area panggul. Keluhan ini biasanya makin jelas ketika berdiri lama, berjalan, atau setelah beraktivitas intens.

2. Sensasi Ada yang Keluar dari Vagina

Sebagian perempuan merasa seperti ada sesuatu yang menonjol atau keluar dari vagina. Pada prolaps yang lebih berat, jaringan yang turun bisa terlihat atau teraba dari luar.

3. Nyeri di Punggung Bawah atau Panggul

Dikutip dari NCBI Bookshelf, pelemahan otot dasar panggul dapat memengaruhi stabilitas otot di sekitarnya. Hal ini menyebabkan nyeri punggung bawah atau panggul yang tidak biasa dan sering muncul setelah beraktivitas.

4. Gangguan Buang Air Kecil

Prolaps uteri dapat menekan kandung kemih sehingga memicu kesulitan menahan kencing atau sering buang air kecil. Beberapa pasien lainnya juga mengalami kesulitan untuk buang air kecil sampai tuntas.

5. Gangguan Buang Air Besar

Tekanan rahim pada usus besar dapat menyebabkan sembelit atau rasa tidak tuntas saat buang air besar. Kondisi ini membuat proses mengejan menjadi lebih sulit dan kadang menimbulkan ketidaknyamanan.

6. Ketidaknyamanan Saat Berhubungan Intim

Prolaps uteri dapat menyebabkan rasa tidak nyaman hingga nyeri saat berhubungan seksual. Hal ini biasanya terjadi karena perubahan posisi organ panggul dan sensitivitas jaringan yang meningkat.

Baca Juga: Hymenoplasty: Prosedur, Manfaat, dan Hal yang Perlu Diketahui

Cara Mengobati Turun Peranakan

Penanganan turun peranakan tergantung pada derajat prolaps uteri dan seberapa besar gangguan yang dialami. Berikut beberapa pendekatan yang umum direkomendasikan:

1. Latihan Dasar Panggul (Kegel)

Latihan kegel dianjurkan karena dapat memperkuat otot dasar panggul, terutama pada prolaps ringan hingga sedang. Gerakannya dilakukan dengan menegangkan otot vagina selama beberapa detik lalu melepaskannya secara berulang.

2. Penggunaan Pessary

Pessary adalah alat yang dimasukkan ke dalam vagina untuk memberikan penopang pada rahim agar tidak turun lebih jauh. Pilihan ini sering digunakan oleh pasien yang ingin menghindari atau menunda operasi.

3. Perubahan Gaya Hidup

Menjaga berat badan ideal dan menghindari aktivitas yang memberi tekanan berlebih pada panggul dapat membantu mencegah prolaps semakin parah. Mengatasi sembelit juga penting agar tekanan saat mengejan tidak memperburuk kondisi.

4. Tindakan Operasi

Pada kasus prolaps yang berat, operasi dapat dilakukan untuk memperbaiki struktur otot panggul atau mengangkat rahim jika diperlukan. Pemilihan jenis operasi akan menyesuaikan kondisi, usia, dan rencana kehamilan pasien.

Kesimpulan

Turun peranakan adalah kondisi yang sering terjadi namun kerap diabaikan. Dengan memahami penyebab turun peranakan, mengenali ciri-cirinya, serta mengetahui derajat prolaps uteri, Anda dapat mengambil langkah tepat sebelum kondisi semakin parah. 

Apabila Anda ingin memelajari lebih lanjut mengenai turun peranakan, kunjungi Klinik BAMED pada Layanan Spesialis Obstetri dan Ginekologi. Di Klinik BAMED, Anda akan mendapatkan pemahaman lebih lanjut cara mengobati turun peranakan dari dokter spesialis kandungan profesional dan terpercaya. 

Frequently Asked Questions

1. Apa efek samping peranakan turun?

Menimbulkan rasa berat di panggul, sensasi seperti ada yang turun, nyeri pinggang, dan sering berkemih atau sulit menahan pipis. Pada kasus berat, jaringan rahim dapat terlihat keluar dan membuat tidak nyaman saat beraktivitas.

2. Apa pantangan turun peranakan?

Hindari mengangkat berat, mengejan berlebihan, berdiri lama, batuk kronis yang tidak diobati, dan aktivitas berat yang memberi tekanan pada panggul.

3. Apakah turun peranakan harus diurut?

Turun peranakan tidak boleh diurut. Mengurut tidak efektif mengembalikan posisi rahim dan berisiko menimbulkan cedera.

4. Peranakan turun apakah bisa hamil?

Bisa, terutama pada prolaps ringan. Pada prolaps sedang-berat, kehamilan tetap mungkin tetapi perlu pemantauan dokter.

5. Peranakan turun apakah bisa berhubungan intim?

Bisa, tergantung tingkat prolaps. Jika menimbulkan nyeri atau tidak nyaman, sebaiknya hentikan dan konsultasikan ke dokter spesialis kandungan.

6. Cara menaikkan peranakan yang turun saat hamil

Istirahat lebih sering, hindari aktivitas berat, lakukan senam kegel, gunakan pessary bila dianjurkan dokter, dan atasi sembelit atau batuk.

7. Apakah turun peranakan bisa sembuh sendiri?

Prolaps ringan bisa membaik dengan latihan dan perubahan gaya hidup. Prolaps sedang-berat biasanya membutuhkan penanganan medis seperti pessary atau operasi.