Beranda > Anoreksia Nervosa: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Anoreksia Nervosa: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Anoreksia Nervosa: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Karina Marcella Widjaja, Sp.GK, AIFO-K

Memiliki tubuh ideal sering kali dianggap sebagai standar kesuksesan atau kebahagiaan oleh sebagian orang. Sayangnya, tekanan sosial terhadap penampilan ini dapat berkembang menjadi gangguan serius, salah satunya adalah anoreksia nervosa. Kondisi ini bukan sekadar soal menurunkan berat badan atau pola makan ekstrem, tetapi melibatkan masalah kesehatan mental yang kompleks dan berdampak serius bagi tubuh.

Anoreksia nervosa adalah salah satu bentuk gangguan makan yang paling berbahaya. Penderitanya bisa sampai pada titik menolak makanan meskipun tubuh sudah kekurangan nutrisi. Dalam jangka panjang, gangguan ini dapat mengganggu fungsi organ tubuh, memengaruhi emosi, dan menurunkan kualitas hidup secara signifikan.

Artikel ini akan mengupas secara menyeluruh tentang apa itu anoreksia nervosa, mulai dari gejala, penyebab, hingga cara mengobati dan mencegahnya. Tujuannya bukan hanya sebagai informasi, tapi juga sebagai bentuk kesadaran agar kita lebih peduli terhadap kesehatan mental dan fisik, baik untuk diri sendiri maupun orang-orang di sekitar kita.

Apa Itu Anoreksia Nervosa?

Anoreksia nervosa adalah salah satu jenis gangguan makan yang ditandai dengan keinginan ekstrem untuk menurunkan berat badan, disertai rasa takut berlebihan terhadap kenaikan berat badan. Meskipun tubuh sudah sangat kurus, penderita tetap merasa dirinya gemuk. Akibatnya, penderita secara sadar membatasi asupan makanan bahkan sampai menolak makan sama sekali.

Gangguan ini bukan hanya soal fisik atau pola makan, melainkan melibatkan kondisi psikologis yang kompleks. Saat tubuh menolak makanan, itu bukan semata karena tidak lapar, tetapi karena adanya tekanan mental dan emosional yang kuat terhadap persepsi tubuh sendiri.

Baca Juga: Peran dan Tugas Dokter Spesialis Gizi Klinik dalam Kesehatan

Gejala Anoreksia Nervosa

Gejala anoreksia nervosa bisa muncul secara perlahan dan sering kali sulit dikenali pada awalnya. Namun, dengan mengenali tanda-tanda umum di bawah ini, Anda bisa lebih waspada terhadap gangguan makan ini.

1. Penurunan Berat Badan yang Ekstrem

Salah satu tanda paling mencolok dari anoreksia nervosa adalah turunnya berat badan secara drastis. Penurunan ini biasanya tidak sebanding dengan tinggi badan atau usia seseorang, dan sering kali membuat penderitanya jauh dari batas Indeks Massa Tubuh (IMT) yang sehat.

2. Obsesi Berlebihan terhadap Berat dan Bentuk Tubuh

Penderita anoreksia sering kali memiliki pandangan yang tidak realistis terhadap tubuh mereka. Meskipun sudah sangat kurus, mereka tetap merasa “terlalu gemuk”. Obsesi ini membuat mereka sangat tergantung pada angka di timbangan atau penampilan di depan cermin.

3. Perilaku Makan yang Tidak Sehat

Beberapa perilaku makan yang menjadi ciri khas gangguan ini antara lain: sengaja melewatkan waktu makan, menghindari makanan dengan kalori tertentu, memotong makanan menjadi potongan sangat kecil, berpura-pura sudah makan, ataupun emuntahkan makanan setelah makan (purging)

Perilaku ini merupakan cara tubuh secara tidak sadar “menolak makanan”, sebagai bagian dari upaya mempertahankan kendali atas berat badan.

4. Masalah Fisik akibat Kekurangan Nutrisi

Kurangnya asupan gizi secara terus-menerus membuat tubuh mulai menunjukkan gejala fisik seperti mudah lelah dan lemas, kulit kering dan pucat, rambut rontok atau menipis, siklus menstruasi terganggu atau berhenti, pusing dan sering merasa kedinginan, dan denyut jantung melambat.

5. Gangguan Emosional dan Sosial

Selain dampak fisik, anoreksia nervosa juga menyebabkan masalah psikologis seperti perasaan tidak berharga, depresi atau kecemasan berat, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga ketakutan berlebihan terhadap makanan

Penyebab Anoreksia Nervosa

Apa yang menjadi penyebab anoreksia nervosa? Berikut ini untuk penjabarab lebih lengkapnya.

1. Tekanan Sosial dan Budaya

Budaya populer yang mengidealkan tubuh kurus dapat menjadi pemicu utama. Banyak remaja atau dewasa muda merasa tertekan untuk tampil sempurna demi memenuhi standar sosial atau media.

2. Masalah Psikologis

Penderita anoreksia sering kali memiliki latar belakang gangguan mental seperti Obsessive-Compulsive Disorder (OCD), gangguan kecemasan, depresi, dan perfeksionisme ekstrem. Keinginan untuk mengontrol aspek tertentu dalam hidup sering dilampiaskan melalui kontrol ketat terhadap makanan dan tubuh.

3. Lingkungan Keluarga

Pola asuh yang menekan, komentar negatif tentang tubuh, atau lingkungan keluarga yang kurang harmonis dapat memicu gangguan makan. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini lebih rentan mengalami anoreksia.

4. Faktor Genetik dan Biologis

Penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik juga memainkan peran. Ketidakseimbangan zat kimia di otak, khususnya serotonin dan dopamin, bisa memengaruhi perilaku makan dan citra diri.

Komplikasi Anoreksia Nervosa

Komplikasi anoreksia nervosa bisa sangat serius, bahkan berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

1. Gangguan Kardiovaskular

Tubuh yang kekurangan energi dan nutrisi bisa menyebabkan terjadinya gangguan irama jantung, tekanan darah rendah, hingga risiko serangan jantung.

2. Gagal Ginjal dan Dehidrasi

Kurangnya cairan dan kalium bisa menyebabkan fungsi ginjal menurun drastis, yang dalam jangka panjang berisiko gagal ginjal.

3. Osteoporosis

Kekurangan kalsium dan vitamin D membuat tulang menjadi rapuh, meningkatkan risiko patah tulang di usia muda.

4. Masalah Imun dan Pencernaan

Imunitas tubuh menurun drastis, membuat penderita lebih mudah terserang infeksi. Selain itu, sembelit kronis dan gangguan pencernaan juga sering terjadi.

5. Gangguan Kesuburan

Pada perempuan, anoreksia bisa menyebabkan menstruasi berhenti, yang dalam jangka panjang bisa memengaruhi kesuburan.

6. Risiko Bunuh Diri

Tingkat keinginan bunuh diri pada penderita anoreksia cukup tinggi. Gangguan makan ini juga memiliki salah satu angka kematian tertinggi di antara gangguan jiwa lainnya.

Baca Juga: Kiat Mengatasi Obesitas dan Meningkatkan Kualitas Hidup Sehat

Pengobatan Anoreksia Nervosa

Pengobatan anoreksia nervosa membutuhkan pendekatan multidisipliner dan jangka panjang. Kesabaran, dukungan, dan konsistensi adalah kunci.

1. Terapi Psikologis

Pendekatan utama dalam pengobatan adalah terapi psikologis seperti:

  • Cognitive Behavioral Therapy (CBT): membantu pasien memahami dan mengubah pola pikir negatif tentang tubuh dan makanan
  • Terapi keluarga: terutama penting untuk pasien remaja, agar keluarga bisa berperan aktif dalam proses pemulihan

2. Perawatan Gizi

Ahli gizi akan membantu membuat rencana makan yang bertahap dan aman. Fokus utamanya adalah memperbaiki status gizi secara perlahan, sambil menghindari efek “refeeding syndrome” (komplikasi serius akibat peningkatan nutrisi terlalu cepat).

3. Obat-obatan

Dokter mungkin meresepkan antidepresan atau obat anti-kecemasan untuk menangani gejala psikologis yang menyertai, meskipun tidak ada obat khusus yang ditujukan untuk anoreksia itu sendiri.

4. Rawat Inap atau Perawatan Intensif

Dalam kondisi parah, pasien bisa membutuhkan rawat inap untuk pemantauan medis ketat terutama jika terjadi penurunan berat badan ekstrem, dehidrasi parah, atau gangguan jantung.

Pencegahan Anoreksia Nervosa

Meskipun tidak selalu bisa dicegah sepenuhnya, terdapat beberapa langkah pencegahan anoreksia nervosa yang bisa dilakukan:

1. Edukasi Sejak Dini

Bangun citra tubuh yang positif sejak usia dini. Ajarkan anak untuk mencintai tubuhnya sendiri, tidak membandingkan dengan orang lain, dan memprioritaskan kesehatan daripada penampilan.

2. Suasana Keluarga yang Positif

Lingkungan keluarga yang mendukung sangat berperan dalam pencegahan. Hindari komentar yang merendahkan atau menilai tubuh orang lain, terutama di hadapan anak-anak dan remaja.

3. Kenali Tanda-Tanda Awal

Jika Anda atau orang terdekat mulai menunjukkan perilaku seperti terlalu membatasi makan, tubuh menolak makanan, atau mengalami perubahan suasana hati ekstrem terkait citra tubuh, jangan abaikan. Konsultasikan dengan profesional sejak dini.

4. Batasi Paparan Media Sosial yang Negatif

Media sosial sering memperkuat standar kecantikan tidak realistis. Kurangi atau saring konten yang bisa memicu perbandingan diri berlebihan, terutama pada anak dan remaja.

Kesimpulan

Anoreksia nervosa adalah gangguan makan yang sangat serius dan tidak bisa dianggap sepele. Gangguan ini tidak hanya membuat tubuh menolak makanan, tetapi juga menyerang kesehatan mental, emosi, dan sosial penderitanya.

Dengan mengenali gejala anoreksia nervosa, memahami penyebab anoreksia nervosa, serta menyadari risiko komplikasi anoreksia nervosa, kita bisa mengambil langkah cepat untuk penanganan yang tepat. Dukungan dari keluarga, sahabat, hingga berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Gizi yang berpengalaman di Klinik BAMED pada Layanan Spesialis Gizi Klinik sangat penting dalam proses pengobatan anoreksia nervosa.

Langkah pencegahan sejak dini juga bisa membantu menurunkan risiko gangguan ini. Ingat, tubuh sehat tidak selalu tentang angka di timbangan, tapi tentang bagaimana kita memperlakukan diri sendiri dengan baik, sehat secara menyeluruh, dan memiliki hubungan yang sehat dengan makanan.