Beranda > Apa Itu Sarkopenia? Penyebab, Gejala & Cara Mengatasi

Apa Itu Sarkopenia? Penyebab, Gejala & Cara Mengatasi

Apa Itu Sarkopenia? Penyebab, Gejala & Cara Mengatasi

Ditinjau oleh: dr. Karina Marcella Widjaja, Sp.G.K, AIFO-K

Seiring bertambahnya usia, banyak orang mulai merasakan tubuh tidak sekuat dulu. Aktivitas yang dulunya ringan, seperti naik tangga, mengangkat belanjaan, atau berdiri setelah duduk lama, perlahan terasa semakin berat. 

Kondisi ini bukan sekadar tanda penuaan biasa. Bisa jadi Anda sedang mengalami sarkopenia, kondisi hilangnya massa dan kekuatan otot secara progresif. Fenomena ini sering kali tidak disadari di awal, padahal dampaknya dapat memengaruhi mobilitas, keseimbangan, hingga kualitas hidup jangka panjang. 

Untuk memahami lebih dalam apa itu sarkopenia, apa penyebabnya, bagaimana gejalanya muncul, hingga apa yang bisa Anda lakukan untuk mengatasinya, mari simak ulasan lengkap berikut.

Key Summaries:

  • Sarkopenia adalah kondisi penurunan massa, kekuatan, dan fungsi otot secara bertahap yang umumnya terjadi seiring bertambahnya usia, bahkan bisa mulai sejak usia 40–50 tahun.
  • Faktor utama penyebab sarkopenia meliputi kurangnya aktivitas fisik, penurunan hormon, kekurangan protein, peradangan kronis, dan gangguan saraf.
  • Gejala yang sering muncul antara lain kekuatan otot menurun, massa otot berkurang, mudah lelah, mobilitas menurun, dan keseimbangan tubuh terganggu.
  • Sarkopenia dapat diatasi melalui latihan kekuatan, aktivitas aerobik, peningkatan asupan protein dan leucine, serta menjaga kualitas tidur dan manajemen stres.
  • Risiko sarkopenia dapat dicegah dengan rutin olahraga, pola makan seimbang, menjaga berat badan ideal, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Apa Itu Sarkopenia?

Istilah sarkopenia merujuk pada kondisi ketika tubuh kehilangan massa otot, kekuatan, dan fungsi otot secara bertahap. Seperti yang dijelaskan dalam National Cancer Institute Dictionary of Cancer Terms, sarkopenia adalah penurunan massa dan kekuatan otot yang biasanya terjadi akibat penuaan.

Menurut artikel di Healthline, sarkopenia bukan sekadar “otot melemah” karena usia. Kondisi ini melibatkan perubahan biologis yang memengaruhi sel otot, hormon, dan kemampuan tubuh memproduksi protein otot. Dengan kata lain, sarkopenia adalah kondisi yang kompleks dan memiliki dampak signifikan pada kemampuan seseorang menjalani aktivitas harian.

Sarkopenia dapat muncul sejak usia sekitar 40–50 tahun dan semakin cepat memburuk bila tidak dicegah. Bahkan, penelitian yang dikutip dari National Institutes of Health (NIH) menyebutkan bahwa orang lanjut usia dapat kehilangan hingga 50% massa otot dibandingkan masa mudanya.

Memahami apa itu sarkopenia menjadi penting agar Anda dapat mengenali tanda-tandanya sedini mungkin.

Baca Juga: Resistensi Insulin: Penyebab, Tanda, dan Cara Mengatasinya

Gejala Sarkopenia

Gejala sarkopenia sering kali muncul secara halus dan bertahap. Beberapa ciri khas berikut dapat membantu Anda mendeteksinya:

1. Kekuatan Otot Menurun

Penurunan kekuatan otot adalah salah satu tanda awal sarkopenia yang paling mudah dirasakan. Anda mungkin mulai kesulitan mengangkat benda yang sebelumnya terasa ringan atau mudah dilakukan. 

Aktivitas sehari-hari seperti membawa belanjaan, menaiki tangga, atau membuka tutup botol dapat terasa lebih berat. Kondisi ini terjadi karena serat otot mulai berkurang dan tidak lagi sekuat dulu. Jika dibiarkan, penurunan kekuatan dapat semakin memperburuk fungsi tubuh secara keseluruhan.

2. Massa Otot Berkurang

Selain melemahnya kekuatan, sarkopenia juga ditandai dengan berkurangnya volume otot secara fisik. Anda mungkin menyadari bagian tubuh seperti lengan, paha, atau betis tampak lebih kecil atau kendur. 

Berkurangnya massa otot ini merupakan akibat langsung dari hilangnya serat otot seiring usia atau kurangnya aktivitas. Penurunan massa otot juga membuat tubuh lebih rentan mengalami cedera. Perubahan ini biasanya berlangsung perlahan sehingga perlu disadari lebih awal.

3. Mudah Lelah

Tubuh dengan massa otot yang menurun cenderung lebih cepat lelah. Hal ini terjadi karena otot yang melemah tidak mampu menyimpan atau menghasilkan energi sebanyak sebelumnya. Aktivitas ringan seperti berjalan agak jauh atau berdiri lama dapat terasa sangat melelahkan. 

Kondisi ini sering disalahartikan sebagai “kurang tidur”, padahal penyebabnya adalah penurunan kekuatan dan ketahanan otot. Rasa lelah yang muncul lebih cepat ini bisa menjadi petunjuk penting untuk mulai memerhatikan kesehatan otot.

4. Mobilitas Berkurang

Banyak orang dengan sarkopenia mengalami penurunan kemampuan bergerak. Langkah menjadi lebih pendek, kecepatan berjalan menurun, atau muncul kesulitan saat hendak berdiri dari posisi duduk. Hal ini terjadi karena otot tidak lagi mampu bekerja sama secara optimal untuk menopang dan menggerakkan tubuh.

Mobilitas yang berkurang juga dapat memengaruhi kemandirian dalam aktivitas sehari-hari. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi masalah fungsional yang lebih serius.

5. Keseimbangan Terganggu

Kekuatan otot, terutama pada kaki, sangat berperan dalam menjaga keseimbangan. Ketika otot melemah dan massa otot berkurang, kemampuan tubuh untuk menstabilkan diri juga menurun. Akibatnya, risiko jatuh meningkat, terutama pada lansia atau orang yang sudah memiliki masalah mobilitas. 

Gangguan keseimbangan ini dapat dirasakan dalam bentuk goyah saat berjalan atau mudah kehilangan pijakan. Karena itu, penting mengenali tanda ini sebagai sinyal bahwa kesehatan otot perlu diperhatikan.

Apabila Anda mengalami beberapa gejala sarkopenia di atas, jangan menunggu hingga aktivitas sehari-hari terganggu. Segera konsultasikan dengan dokter spesialis gizi di Klinik Bamed agar kondisi dapat ditangani dengan tepat dan kualitas hidup tetap terjaga.

Penyebab Sarkopenia

Penyebab sarkopenia tidak hanya karena bertambahnya usia, meskipun faktor umur berperan besar. Kombinasi gaya hidup dan kondisi medis turut mempercepat terjadinya sarkopenia. Berikut penjabaran lengkapnya.

1. Kurangnya Aktivitas Fisik

Menurut WebMD, kurangnya aktivitas fisik merupakan penyebab utama terjadinya sarkopenia. Gaya hidup sedentari, seperti terlalu sering duduk, jarang bergerak, atau tidak melakukan olahraga rutin, membuat otot tidak mendapat rangsangan yang diperlukan untuk tetap kuat. 

Tanpa latihan kekuatan, serat otot secara alami akan melemah dan mengecil dari waktu ke waktu. Kondisi ini juga memperlambat metabolisme tubuh, sehingga proses penurunan massa otot berjalan lebih cepat. 

2. Penurunan Produksi Hormon

Beberapa hormon seperti testosteron, growth hormone, dan IGF-1 memiliki peran penting dalam pembentukan dan pemeliharaan massa otot. Seiring bertambahnya usia, tubuh memproduksi hormon-hormon ini dalam jumlah yang lebih rendah. 

Penurunan hormon ini membuat proses pembentukan otot tidak seefektif saat muda, sehingga otot lebih mudah mengecil. Selain itu, regenerasi sel otot juga melambat, menyebabkan pemulihan menjadi lebih lama setelah aktivitas fisik. Inilah sebabnya sarkopenia banyak terjadi pada usia lanjut.

3. Kekurangan Asupan Protein

Protein merupakan bahan utama untuk membangun dan memperbaiki jaringan otot. Jika asupan protein harian tidak mencukupi, tubuh kesulitan menjaga massa otot yang sudah ada, apalagi membentuk yang baru. Kondisi ini mempercepat terjadinya sarkopenia, terutama pada orang dewasa yang sudah memiliki penurunan hormon dan aktivitas fisik. 

Mengonsumsi sumber protein berkualitas seperti daging tanpa lemak, telur, ikan, atau kacang-kacangan sangat penting untuk kesehatan otot. Kekurangan protein juga membuat tubuh terasa lebih lemah dan mudah lelah.

4. Peradangan Kronis

Peradangan jangka panjang akibat kondisi medis tertentu dapat menghambat pembentukan otot. Inflamasi kronis biasanya meningkatkan produksi sitokin inflamasi, yaitu zat kimia dalam tubuh yang dapat merusak jaringan otot. Ketika sitokin meningkat, tubuh kehilangan kemampuan untuk mempertahankan otot secara optimal. 

Banyak penyakit seperti diabetes, obesitas, atau penyakit autoimun berkontribusi terhadap kondisi ini. Jika dibiarkan, inflamasi kronis dapat mempercepat penurunan massa otot dan memperburuk sarkopenia.

5. Gangguan Saraf

Otot hanya dapat bergerak ketika mendapat sinyal dari saraf, sehingga kesehatan sistem saraf sangat berpengaruh terhadap kekuatan otot. Seiring bertambah usia, sel-sel saraf yang mengontrol otot dapat mengalami degenerasi atau penurunan fungsi. 

Ketika saraf tidak lagi memberikan stimulasi optimal, otot perlahan mengecil dan melemah. Gangguan saraf juga membuat koordinasi tubuh menurun sehingga gerakan menjadi lebih terbatas. Faktor ini menjadikan proses penuaan semakin meningkatkan risiko terjadinya sarkopenia.

Baca Juga: Memahami Komposisi Tubuh Sebagai Tolak Ukur Kesehatan

Cara Mengatasi Sarkopenia

Walaupun sarkopenia adalah proses alami, bukan berarti tidak dapat dilawan. Perubahan gaya hidup dan latihan terarah mampu memperbaiki kekuatan dan massa otot secara bertahap.

1. Latihan Kekuatan (Resistance Training)

Latihan kekuatan merupakan metode paling efektif untuk meningkatkan massa otot pada penderita sarkopenia. Gerakan seperti squat, push-up, deadlift, dan latihan menggunakan resi

Stance band membantu merangsang otot bekerja lebih keras. Ketika otot diberi tekanan, tubuh akan merespons dengan memperbaiki dan membentuk jaringan otot baru. 

Proses inilah yang mendukung pemulihan kekuatan dan menghambat penurunan massa otot. Melakukan latihan kekuatan secara rutin 2–3 kali seminggu dapat memberikan hasil signifikan pada fungsi tubuh.

2. Aktivitas Aerobik

Latihan aerobik seperti jalan cepat, bersepeda, atau berenang berperan penting dalam menjaga kesehatan otot. Aktivitas ini membantu meningkatkan fungsi mitokondria, yaitu pusat energi di dalam sel otot. Dengan mitokondria yang lebih optimal, otot menjadi lebih efisien dalam menggunakan energi dan mempertahankan kekuatannya. 

Aerobik juga meningkatkan aliran darah sehingga nutrisi lebih mudah mencapai jaringan otot. Kombinasi aerobik dan latihan kekuatan memberikan manfaat maksimal bagi penderita sarkopenia.

3. Menambah Asupan Protein

Penderita sarkopenia membutuhkan asupan protein yang lebih tinggi karena tubuh memerlukan bahan baku ekstra untuk memperbaiki serat otot yang melemah. Rekomendasi umum adalah 1–1,2 gram protein per kilogram berat badan per hari. 

Sumber protein berkualitas seperti ikan, telur, daging tanpa lemak, tahu, tempe, dan produk susu sangat dianjurkan. Protein membantu merangsang sintesis otot yang penting untuk memperlambat penurunan massa otot. Mengatur konsumsi protein merata sepanjang hari juga membantu tubuh memanfaatkannya secara optimal.

4. Konsumsi Asam Amino Leucine

Leucine adalah salah satu asam amino esensial yang berperan besar dalam proses pembentukan dan pemulihan otot. Zat ini memicu proses yang disebut muscle protein synthesis, yaitu mekanisme tubuh membangun jaringan otot baru. 

Makanan seperti kedelai, daging, kacang-kacangan, serta whey protein merupakan sumber leucine yang melimpah. Konsumsi leucine dalam jumlah cukup dapat membantu meningkatkan respons tubuh terhadap latihan kekuatan. Nutrisi ini menjadi tambahan penting dalam strategi mengatasi sarkopenia.

5. Tidur Cukup dan Manajemen Stres

Tidur merupakan waktu bagi tubuh untuk memperbaiki jaringan dan memproduksi hormon pertumbuhan yang penting bagi pembentukan otot. Kurang tidur dapat menghambat proses pemulihan sehingga otot lebih mudah mengalami penurunan fungsi. 

Di sisi lain, stres berkepanjangan dapat meningkatkan produksi hormon kortisol yang mempercepat kerusakan otot. Mengelola stres melalui relaksasi, pernapasan dalam, atau aktivitas menenangkan sangat membantu menjaga kesehatan otot.

Baca Juga: Ini 5 Cara Memperlambat Metabolisme Tubuh

Cara Mencegah Sarkopenia

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Beberapa langkah berikut dapat membantu Anda menurunkan risiko sarkopenia sejak dini:

1. Rutin Olahraga

Aktivitas fisik adalah salah satu cara paling efektif untuk menjaga kesehatan otot hingga usia lanjut. Menggabungkan latihan kekuatan dan kardio membantu mempertahankan massa otot, meningkatkan fungsi sendi, serta menjaga kebugaran secara keseluruhan. 

Olahraga minimal 2–3 kali seminggu terbukti mampu memperlambat penurunan massa otot terkait usia. Latihan beban merangsang pembentukan serat otot baru, sementara kardio menjaga kesehatan jantung dan aliran darah. 

2. Pola Makan Seimbang

Nutrisi berperan besar dalam mendukung kesehatan dan kekuatan otot. Protein membantu memperbaiki dan membangun otot, sementara vitamin D dan omega-3 berkontribusi pada fungsi otot dan kesehatan tulang. Mineral seperti magnesium dan zat besi juga diperlukan untuk kontraksi otot dan produksi energi. 

Mengatur pola makan yang seimbang membantu tubuh memperoleh semua zat gizi tersebut secara cukup. Menu harian idealnya mencakup protein hewani atau nabati, sayuran hijau, biji-bijian, dan lemak sehat.

3. Jaga Berat Badan Ideal

Mempertahankan berat badan yang sehat penting untuk meminimalkan risiko sarkopenia. Berat badan berlebih dapat meningkatkan inflamasi dalam tubuh, yang pada akhirnya mengganggu fungsi dan regenerasi otot. 

Sebaliknya, berat badan terlalu rendah membuat simpanan energi tubuh menurun sehingga otot lebih mudah menyusut. Menjaga keseimbangan antara asupan kalori, nutrisi, dan aktivitas fisik sangat penting. Dengan berat badan ideal, tubuh dapat mempertahankan kekuatan dan massa otot lebih baik.

4. Periksa Kesehatan Secara Berkala

Pemeriksaan rutin membantu mendeteksi kondisi yang dapat meningkatkan risiko sarkopenia lebih dini. Penyakit seperti diabetes, gangguan jantung, hingga penyakit autoimun dapat mempercepat hilangnya massa otot karena memengaruhi metabolisme dan fungsi tubuh. 

Pengawasan medis memungkinkan penanganan cepat jika muncul gangguan yang dapat memperburuk kondisi otot. Selain itu, konsultasi rutin membantu memastikan Anda mendapatkan rekomendasi nutrisi dan aktivitas fisik yang paling sesuai. Langkah ini penting untuk menjaga kesehatan otot jangka panjang.

Kesimpulan

Sarkopenia adalah kondisi hilangnya massa dan kekuatan otot yang dapat terjadi seiring bertambah usia.  Dengan menggabungkan aktivitas fisik rutin, pola makan kaya protein, tidur cukup, serta gaya hidup aktif, Anda dapat menerapkan cara mengatasi sarkopenia dan sekaligus menjalankan cara mencegah sarkopenia secara berkelanjutan.

Menjaga kesehatan otot bukan hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga kualitas hidup jangka panjang. Agar dapat melakukan penanganan sarkopenia sejak dini, Anda dapat hubungi kami di Klinik BAMED dan berkonsultasi dengan dokter spesialis pada Layanan Spesialis Gizi Klinik sekarang juga. 

FAQ

1. Sarkopenia apakah bisa disembuhkan?

Sarkopenia tidak bisa disembuhkan sepenuhnya, tetapi dapat diperlambat dan diperbaiki melalui latihan kekuatan, asupan protein yang cukup, dan gaya hidup sehat.

2. Makanan apa yang baik untuk sarkopenia?

Makanan tinggi protein seperti telur, ikan, ayam, daging tanpa lemak, tahu, tempe, susu, dan kacang-kacangan sangat baik untuk sarkopenia. Nutrisi pendukung seperti vitamin D, omega-3, dan antioksidan dari sayuran dan buah juga membantu menjaga kesehatan otot.

3. Apa terapi nutrisi untuk sarkopenia?

Terapi nutrisi sarkopenia menekankan kecukupan protein sekitar 1,2–1,5 gram per kilogram berat badan per hari. Jika perlu, suplemen protein, vitamin D, kalsium, dan omega-3 dapat digunakan sebagai pendukung.

4. Olahraga apa yang direkomendasikan untuk mencegah sarkopenia?

Latihan kekuatan seperti angkat beban, resistance band, atau latihan berat badan adalah yang paling direkomendasikan. Lakukan secara rutin 2–3 kali per minggu, dapat dikombinasikan dengan aerobik ringan.

5. Apa bahayanya sarkopenia?

Sarkopenia menyebabkan otot melemah, mobilitas menurun, dan meningkatkan risiko jatuh serta patah tulang. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat menurunkan kualitas hidup secara signifikan.