Beranda > Hiperemesis Gravidarum: Penyebab, Tingkatan dan Pengobatan

Hiperemesis Gravidarum: Penyebab, Tingkatan dan Pengobatan

Hiperemesis Gravidarum: Penyebab, Tingkatan dan Pengobatan

Ditinjau oleh: dr. Indra, Sp.O.G, FICS

Mual dan muntah merupakan keluhan yang umum dialami calon ibu pada awal kehamilan. Namun, bila keluhan ini muncul dalam intensitas yang sangat parah hingga membuat ibu kelelahan, dehidrasi, atau sulit beraktivitas, kondisi tersebut bisa jadi bukan sekadar morning sickness, melainkan hiperemesis gravidarum.

Apa itu hiperemesis gravidarum, penyebab, gejala, hingga bagaimana pengobatannya? Kami akan menjelaskan selengkapnya di artikel ini.

Baca Juga: Panduan saat Melakukan Pemeriksaan Kehamilan Trimester 1

Apa Itu Hiperemesis Gravidarum?

Hiperemesis gravidarum adalah kondisi mual dan muntah berlebihan yang terjadi pada awal kehamilan, jauh lebih parah dibandingkan mual-mual pada umumnya. Menurut artikel dari Cleveland Clinic, kondisi ini dapat menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, hingga penurunan berat badan yang signifikan.

Sumber dari NCBI Bookshelf juga menyebutkan bahwa hiperemesis gravidarum dapat memengaruhi sekitar 0,3% hingga 3% kehamilan di seluruh dunia. Meski tidak terlalu umum, dampaknya terhadap kesehatan ibu dan janin bisa sangat besar jika tidak ditangani dengan tepat.

Penyebab Hiperemesis Gravidarum

Menurut artikel pada laman Hyperemesis Education & Research (HER) Foundation, penyebab hiperemesis gravidarum belum sepenuhnya dipahami. Namun, para ahli menggambarkan kondisi ini sebagai hasil dari berbagai faktor yang saling berkaitan.

1. Perubahan Hormon Kehamilan

Peningkatan hormon hCG (human chorionic gonadotropin) diduga berperan besar dalam munculnya hiperemesis gravidarum. Kadar hormon ini biasanya mencapai puncaknya pada trimester pertama, bertepatan dengan fase ketika gejala hiperemesis gravidarum paling parah muncul.

2. Faktor Genetik dan Biologis

Wanita dengan riwayat keluarga yang mengalami hiperemesis gravidarum lebih berisiko mengalami kondisi serupa. Hal ini menunjukkan adanya peran faktor genetik dan respons biologis tubuh terhadap perubahan hormon.

3. Kondisi Psikologis dan Pemicu Tambahan

Stres berat atau kondisi emosional tertentu dapat memperburuk gejala. Meski bukan penyebab utama, aspek ini dapat memperparah mual dan muntah pada ibu hamil yang sudah rentan.

Tingkatan Hiperemesis Gravidarum

Berdasarkan keparahan gejalanya, hiperemesis gravidarum dapat dikategorikan dalam beberapa tingkatan berikut.

1. Hiperemesis Gravidarum Tingkat Ringan

Pada tingkat ringan, gejala hiperemesis gravidarum biasanya berupa mual dan muntah yang masih dapat ditoleransi. Ibu masih mampu melakukan aktivitas ringan, dan penurunan berat badan tidak terlalu signifikan. Cara mengatasi masalah tersebut pada tahap ini sering kali cukup dengan modifikasi pola makan.

2. Hiperemesis Gravidarum Tingkat Sedang

Gejala mulai muncul lebih sering dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Di tahap ini, beberapa ibu hamil membutuhkan cairan tambahan atau obat anti-mual yang diresepkan dokter. Tidak hanya itu, ibu hamil mungkin akan mengalami penurunan berat badan mencapai 5-10%.

3. Hiperemesis Gravidarum Tingkat Berat

Ini adalah tingkat paling serius. Muntah terjadi terus-menerus, ibu hampir tidak dapat makan maupun minum, dan risiko dehidrasi sangat tinggi. Kondisi ini sering memerlukan perawatan di rumah sakit, termasuk pemberian infus dan pemantauan ketat.

Baca Juga: Beberapa Tanda Kehamilan yang Sering Diabaikan

Gejala dan Komplikasi Hiperemesis Gravidarum

Hiperemesis gravidarum memiliki beberapa gejala yang menjadi penanda. Agar lebih memahami, simak penjelasan di bawah ini. 

1. Gejala Hiperemesis Gravidarum

Hiperemesis gravidarum ditandai oleh mual dan muntah hebat yang jauh lebih parah dibanding morning sickness biasa. Kondisi ini membuat ibu hamil sulit beraktivitas dan bahkan tidak mampu mempertahankan asupan makanan maupun minuman. Berikut gejala-gejalanya:

  • Mual hebat yang terjadi berulang sepanjang hari.
  • Tidak mampu menahan makanan atau minuman di dalam tubuh.
  • Muncul pada minggu ke-4 hingga ke-6 kehamilan dan dapat berlangsung hingga trimester kedua atau lebih lama.
  • Muntah sangat sering hingga membuat tubuh lemas dan tidak bertenaga.
  • Pusing, penurunan nafsu makan, dan kesulitan menjalani aktivitas harian.
  • Dalam kasus berat, ibu hamil perlu istirahat total dan memerlukan bantuan medis untuk menjaga kondisi fisik tetap stabil.

2. Komplikasi Hiperemesis Gravidarum

Hiperemesis gravidarum yang tidak mendapatkan penanganan tepat dapat berkembang menjadi berbagai komplikasi serius, baik fisik maupun emosional. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kesehatan ibu, tetapi juga dapat berdampak pada perkembangan janin, berupa:

  • Dehidrasi berat akibat kehilangan cairan terus-menerus.
  • Ketidakseimbangan elektrolit yang mengganggu fungsi organ vital.
  • Penurunan berat badan drastis karena kurangnya asupan nutrisi.
  • Risiko gangguan perkembangan janin atau berat badan lahir rendah.
  • Dampak psikologis seperti kecemasan, stres berkepanjangan, dan rasa terisolasi.
  • Gejala dapat memburuk jika tidak disertai dukungan emosional dan perawatan medis yang tepat.

Pengobatan Hiperemesis Gravidarum

Berikut adalah pengobatan hiperemesis gravidarum agar kesehatan ibu hamil dan janin tetap terjaga.

1. Perubahan Pola Makan dan Gaya Hidup

Langkah awal mengatasi hiperemesis gravidarum adalah mengonsumsi makanan ringan dalam porsi kecil tetapi lebih sering. Ibu juga dianjurkan menghindari makanan berlemak dan pedas serta menghindari pemicu mual seperti bau tajam.

2. Terapi Medis

Jika perubahan pola makan tidak cukup, dokter dapat memberikan obat anti-mual yang aman untuk ibu hamil. Perawatan tambahan seperti infus cairan, pemeriksaan berkala, hingga pemasangan selang makan dapat diperlukan pada kasus yang lebih berat.

3. Nutrisi Tambahan dan Pemantauan

Pada kondisi tertentu, dokter dapat menyarankan pemenuhan nutrisi tambahan untuk mencegah kekurangan vitamin dan mineral. Pemantauan rutin juga diperlukan untuk memastikan pertumbuhan janin tetap optimal.

Baca Juga: Tes Medis yang Wajib Dilakukan Sebelum Program Hamil

Pencegahan Hiperemesis Gravidarum

Hingga kini tidak ada metode yang terbukti sebagai pencegahan hiperemesis gravidarum sepenuhnya. Namun, Anda dapat meminimalkan risikonya dengan mengenali tanda awal dan segera berkonsultasi ke dokter. Penanganan lebih cepat dapat membantu mengurangi dampak kondisi ini terhadap kesehatan ibu dan janin.

Kesimpulan

Hiperemesis gravidarum merupakan kondisi medis serius yang membutuhkan perhatian dan penanganan menyeluruh. Dengan memahami apa itu hiperemesis gravidarum, penyebab, tingkatan, gejala, serta komplikasi dan pengobatannya, Anda dapat lebih siap menghadapi tantangan yang mungkin muncul selama kehamilan.

Bila Anda atau orang terdekat menunjukkan tanda-tanda kondisi ini, segera berkonsultasi ke tenaga medis seperti di Klinik BAMED pada Layanan Spesialis Obstetri dan Ginekologi agar perawatan dapat diberikan secepat mungkin. Klinik BAMED memiliki dokter spesialis kandungan terbaik untuk membantu Anda melewati masa kehamilan dengan aman dan lancar. Langkah dini akan membantu melindungi kesehatan ibu dan perkembangan janin.

Frequently Asked Questions

1. Apa risiko pada janin jika ibu mengalami hiperemesis gravidarum?

Bisa terjadi pertumbuhan janin terhambat, berat lahir rendah, dan risiko prematur jika kondisi ibu sangat berat atau tidak ditangani. Dengan perawatan tepat, biasanya kehamilan tetap aman.

2. Apa hormon yang mempengaruhi hiperemesis gravidarum?

Hiperemesis gravidarum dipengaruhi terutama oleh hCG, estrogen, progesteron, serta kadar hormon tiroid yang meningkat.

3. Apakah hiperemesis gravidarum bisa menyebabkan keguguran?

Tidak langsung menyebabkan keguguran, tetapi risiko meningkat jika ibu mengalami dehidrasi berat, kehilangan banyak berat badan, atau ketidakseimbangan elektrolit tanpa perawatan.

4. Apa jenis kelamin bayi yang sering dikaitkan dengan hiperemesis gravidarum?

Bayi perempuan lebih sering dikaitkan dengan hiperemesis gravidarum dibandingkan laki-laki. Namun ini bukan sesuatu yang pasti, hanya kecenderungan statistik kecil, bukan penentu jenis kelamin.

5. Mengapa janin perempuan sering dikatakan menyebabkan hiperemesis gravidarum?

Karena umumnya kadar hCG dan estrogen sedikit lebih tinggi pada kehamilan bayi perempuan.