Ditinjau oleh: dr. Melody Febriana Andardewi, Sp.D.V.E
Infeksi menular seksual (IMS) masih menjadi isu kesehatan yang kerap diabaikan, meskipun dampaknya dapat serius dan berkepanjangan. Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi karena tidak merasakan gejala apapun pada tahap awal. Padahal, penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi.
Untuk itu, mengenali ciri-ciri IMS dan memahami penyebabnya menjadi langkah awal yang sangat penting dalam menjaga kesehatan reproduksi Anda.
Apa Itu Infeksi Menular Seksual?
Infeksi menular seksual adalah infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual, baik melalui vaginal, anal, maupun oral. Infeksi ini dapat disebabkan oleh bakteri, virus, atau parasit. Penyebaran IMS ditularkan melalui kontak langsung dengan cairan tubuh, seperti sperma, cairan vagina, atau darah.
Selain itu, IMS juga dapat ditularkan tanpa adanya hubungan seksual, yaitu melalui penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi, atau penularan dari ibu ke janin saat hamil atau proses melahirkan. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk memahami apa saja IMS dan bagaimana cara pencegahannya.
Ciri Infeksi Menular Seksual
Beberapa ciri-ciri IMS yang umum meliputi:
- Luka, benjolan, atau lepuh di area kelamin, anus, atau mulut
- Keluar cairan dari penis (pada laki-laki)
- Keputihan yang berbau tidak sedap atau berwarna tidak biasa (pada perempuan)
- Ruam kulit
- Rasa nyeri atau panas saat buang air kecil
- Gatal di area genital
- Nyeri saat berhubungan seksual
- Pembengkakan kelenjar getah bening
- Demam ringan hingga sedang
- Rasa lelah tanpa sebab yang jelas
Tanda dan gejala penyakit bisa sangat bervariasi tergantung pada jenis infeksinya. Itulah sebabnya ciri-ciri IMS perlu diketahui dengan baik, meskipun gejalanya bisa saja samar atau tidak muncul sama sekali.
Penyebab Infeksi Menular Seksual
Infeksi menular seksual dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, maupun parasit. Contoh kuman penyebab IMS yang paling umum terjadi di masyarakat yaitu:
1. Klamidia
Klamidia disebabkan oleh infeksi bakteri Chlamydia trachomatis. Pada perempuan sering kali tidak bergejala. Namun, gejala yang dapat ditimbulkan yaitu keputihan dan nyeri saat buang air kecil. Infeksi ini dapat menyebabkan kerusakan serius pada sistem reproduksi jika tidak ditangani. Komplikasi jangka panjang termasuk penyakit radang panggul, kehamilan ektopik, dan infertilitas.
Pada laki-laki, klamidia bisa menyebabkan peradangan pada testis dan saluran kemih. Diagnosis dilakukan melalui tes urin atau pemeriksaan usapan serviks. Pengobatan umumnya memerlukan antibiotik.
2. Gonore
Gonore merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. Pada perempuan, gejalanya dapat berupa keputihan yang tidak normal, rasa nyeri atau terbakar saat buang air kecil, serta nyeri panggul.
Pada laki-laki, gejala dapat meliputi keluar cairan seperti nanah dari penis, gatal atau rasa panas di area lubang penis, atau pembengkakan pada buah zakar.
Orang yang melakukan hubungan seksual secara oral (oral sex) juga dapat mengalami gejala berupa sakit tenggorokan. Gonore yang tidak diobati juga dapat menyebabkan infertilitas dan menyebar ke bagian tubuh lainnya. Pemeriksaan laboratorium dan pengobatan antibiotik menjadi standar penanganannya.
3. Sifilis
Sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyakit sifilis mempunyai 4 stadium penyakit, mulai dari stadium primer, stadium sekunder, stadium laten, dan stadium laten lanjut. Stadium primer ditandai dengan luka tanpa rasa sakit yang muncul di kelamin, anus, atau mulut. Pada stadium sekunder, muncul ruam kemerahan terutama pada telapak tangan dan telapak kaki. Bila tidak segera diobati, sifilis dapat berlanjut ke tahap laten. Pada tahap ini tidak ada gejala yang nampak namun bakteri sudah menyebar keseluruh tubuh hingga akhirnya merusak organ penting misalnya otak, jantung, tulang, hati, serta sistem saraf. Pengobatan menggunakan antibiotik sangat efektif jika dilakukan sejak dini.
4. Herpes Genital
Herpes genital disebabkan oleh virus Herpes Simpleks tipe 1 atau tipe 2 (HSV-1 atau HSV-2). Infeksi ini ditandai dengan munculnya lepuh berisi cairan di area kelamin. Lepuh bisa pecah dan menimbulkan luka yang terasa nyeri. Herpes genitalis bersifat kambuhan dan tidak bisa disembuhkan, tetapi gejalanya dapat dikendalikan dengan obat antivirus. Penularannya bisa terjadi bahkan saat tidak ada gejala aktif, sehingga penting untuk menjaga komunikasi terbuka dengan pasangan dan menerapkan tindakan pencegahan.
5. HIV/AIDS
Human Immunodeficiency Virus (HIV) menyerang dan melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga penderitanya menjadi rentan terhadap berbagai infeksi dan kanker. Jika tidak dikendalikan, HIV dapat berkembang menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome), tahap lanjut dari infeksi ini.
HIV ditularkan melalui cairan tubuh seperti darah, air mani, cairan vagina, dan ASI. Virus ini juga dapat ditularkan dari ibu ke janin saat kehamilan atau melahirkan. Penanganan HIV saat ini melibatkan terapi antiretroviral (ARV) yang dapat menekan virus hingga ke tingkat yang tidak terdeteksi, memungkinkan penderita hidup sehat dan panjang.
6. Trikomoniasis
Trikomoniasis merupakan infeksi yang disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis. Pada perempuan, gejalanya berupa keputihan berwarna kuning-kehijauan, berbau tidak sedap, gatal, serta iritasi pada area genital. Pria yang terinfeksi sering tidak menunjukkan gejala, tetapi tetap dapat menularkan parasit ini. Trikomoniasis mudah diobati dengan antibiotik seperti metronidazole, namun penting untuk mengobati kedua pasangan agar mencegah infeksi ulang.
7. Human Papillomavirus (HPV)
HPV adalah kelompok virus yang sangat umum ditularkan melalui kontak seksual. Virus ini memiliki berbagai tipe dan dikelompokkan menjadi HPV berisiko rendah dan HPV berisiko tinggi. Infeksi HPV menyebabkan munculnya kutil pada kelamin. Namun, jika seseorang terinfeksi HPV tipe berisiko tinggi, maka akan lebih rentan mengalami kanker contohnya kanker serviks, kanker anus, kanker penis, dan kanker tenggorokan.
Untuk mencegah infeksi HPV, vaksinasi HPV telah tersedia dan sangat efektif sebagai langkah pencegahan terutama bila diberikan sebelum seseorang mulai aktif secara seksual.
- Penyebab Infeksi Menular Seksual Lain
Penyakit IMS juga dapat disebabkan oleh bakteri lainnya. Misalnya penyakit chancroid/ulkus mole ditandai dengan luka yang nyeri di kelamin disebabkan oleh infeksi bakteri Haemophilus ducreyi. Bakteri Chlamydia trachomatis yang telah disinggung sebelumnya juga mempunyai varian tertentu yang dapat mengakibatkan penyakit Limfogranuloma Venereum (LGV) dengan gejala khas berupa pembesaran kelenjar getah bening di area selangkangan.
Penyakit Donovanosis ditandai dengan luka pada kelamin dapat disebabkan oleh bakteri Klebsiella granulomatis. Selain itu, virus Hepatitis B dan C juga dapat ditularkan melalui hubungan seksual.
Faktor Risiko Terjadinya Infeksi Menular Seksual
Faktor risiko terjadinya IMS sangat beragam. Memahaminya secara spesifik dapat membantu Anda mengidentifikasi dan menghindari risiko yang mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
1. Kontak Seksual Tanpa Pengaman
Salah satu penyebab paling umum dari IMS adalah melakukan hubungan seksual tanpa kondom. Alat kontrasepsi ini berfungsi sebagai pelindung fisik yang mencegah pertukaran cairan tubuh, yang menjadi media utama penularan infeksi misalnya HIV, gonore, dan klamidia.
2. Pasangan Seksual Multipartner
Memiliki lebih dari satu pasangan seksual meningkatkan risiko tertular IMS secara signifikan. Setiap pasangan baru berpotensi membawa infeksi yang tidak terdeteksi, terutama jika tidak dilakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
3. Kurangnya Edukasi Seksual
Minimnya pengetahuan mengenai cara penularan dan pencegahan IMS dapat membuat seseorang lebih rentan. Kurangnya pemahaman ini sering kali membuat individu tidak menyadari pentingnya perlindungan saat berhubungan seksual atau melakukan pemeriksaan rutin.
4. Jarum Suntik yang Tidak Steril
Penggunaan jarum suntik yang tidak steril, terutama dalam konteks penyalahgunaan narkoba, prosedur medis yang tidak higienis, atau praktik tindik dan tato yang tidak sesuai standar, menjadi salah satu jalur penularan yang sangat berisiko.
5. Ibu Hamil yang Terinfeksi
Infeksi menular seksual juga dapat ditularkan dari ibu ke janin selama kehamilan atau saat proses persalinan. Penularan ini dapat berdampak serius pada kesehatan bayi, termasuk kelahiran prematur, cacat bawaan, atau infeksi sistemik.
Cara Mencegah Infeksi Menular Seksual
Untuk menghindari IMS dan mencegah rantai penularannya, Bamate bisa menerapkan prinsip ABCDE berikut ini:
1. Abstinence
Menghindari melakukan hubungan seksual yang berisiko merupakan cara yang paling efektif untuk mencegah IMS. Bila muncul tanda dan gejala IMS pada diri Anda maupun pada pasangan, upayakan untuk tidak melakukan hubungan seksual selama beberapa waktu hingga sembuh.
- Be Faithful
Setia dengan satu pasangan tetap yang telah diperiksa kesehatannya dapat secara signifikan mengurangi risiko penularan penyakit. Kepercayaan dan kesetiaan dalam hubungan sangat penting untuk menjaga kesehatan bersama.
- Use Condom
Menggunakan kondom secara konsisten dan benar selama berhubungan seksual adalah salah satu metode paling efektif dalam mengurangi risiko penularan IMS. Kondom membantu mencegah kontak langsung dengan cairan tubuh yang dapat membawa infeksi.
- No Drugs
Jangan menggunakan NAPZA yang bisa memicu perilaku seks bebas berisiko serta tidak menggunakan jarum suntik yang tidak steril secara bersamaan dengan orang lain.
- Education and Early Detection
Mengetahui IMS dan cara penularannya adalah fondasi utama dalam pencegahan. Edukasi yang memadai memungkinkan Anda dan pasangan membuat keputusan yang lebih sehat dan bertanggung jawab dalam kehidupan seksual. Jika Anda aktif secara seksual, terutama dengan lebih dari satu pasangan, penting untuk melakukan skrining IMS secara berkala. Deteksi dini memungkinkan penanganan segera dan menghindari penularan ke pasangan.
Vaksinasi untuk Infeksi Menular Seksual
Hingga saat ini, vaksinasi yang tersedia untuk mencegah IMS adalah vaksinasi HPV dan Hepatitis B. Vaksinasi terhadap virus HPV dan hepatitis B merupakan langkah preventif yang sangat dianjurkan terutama untuk remaja dan orang dewasa muda yang belum terpapar virus tersebut.
Infeksi menular seksual bisa menyerang siapa saja tanpa memandang usia maupun latar belakang. Banyak yang tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi karena gejala awal bisa sangat ringan atau bahkan tidak ada sama sekali. Oleh sebab itu, mengenali ciri-ciri dan memahami contoh IMS yang umum menjadi langkah awal yang penting.
Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga medis di Klinik BAMED pada Layanan Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika jika Anda mengalami gejala mencurigakan atau memiliki faktor risiko. Pencegahan dan deteksi dini adalah kunci utama menjaga kesehatan seksual Anda.
