Beranda > Disfungsi Ereksi: Jenis, Gejala & Pengobatan

seorang pria yang mengalami disfungsi ereksi berkonsultasi dengan dokter andrologi

Disfungsi Ereksi: Jenis, Gejala & Pengobatan

Ditinjau oleh: dr. William, Sp.And

Disfungsi ereksi bukan sekadar masalah fisik, melainkan kondisi medis yang dapat berdampak besar terhadap kesehatan emosional, hubungan, dan kualitas hidup pria. Meskipun kerap dianggap tabu untuk dibicarakan, faktanya, kondisi ini cukup umum terjadi dan bisa dialami oleh pria dari berbagai usia, terutama di atas 40 tahun.

Dengan memahami apa itu disfungsi ereksi, gejala awalnya, serta berbagai metode pengobatan yang ada, Anda dapat mengambil langkah yang tepat untuk memulihkan fungsi seksual dan menjaga kesehatan reproduksi pria secara menyeluruh. Artikel ini akan mengulas secara lengkap mengenai jenis, penyebab, serta solusi medis yang tersedia bagi Anda.

Apa Itu Disfungsi Ereksi?

Disfungsi ereksi adalah kondisi di mana seorang pria kesulitan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk melakukan hubungan seksual secara memuaskan.

Disfungsi ereksi bisa terjadi sesekali karena stres atau kelelahan. Namun, bila berlangsung terus-menerus, hal ini bisa menjadi tanda adanya gangguan medis yang memerlukan penanganan serius.

Jenis-Jenis Disfungsi Ereksi

Terdapat beberapa jenis disfungsi ereksi berdasarkan penyebab dan manifestasinya. Mengenali jenisnya membantu Dokter Andrologi menentukan pengobatan yang paling sesuai.

1. Disfungsi Ereksi Psikogenik

Berasal dari faktor psikologis seperti stres, kecemasan, depresi, atau trauma emosional. Ereksi masih mungkin terjadi saat tidur atau saat bangun tidur, yang menandakan bahwa fungsi fisik penis masih normal.

2. Disfungsi Ereksi Organik

Dipicu oleh faktor fisik seperti gangguan pembuluh darah, diabetes, hipertensi, atau gangguan saraf. Ini adalah jenis yang paling umum ditemukan dan sering kali membutuhkan pengobatan medis.

3. Disfungsi Ereksi Campuran

Merupakan kombinasi dari penyebab fisik dan psikologis. Jenis ini sering memerlukan pendekatan multidisipliner, termasuk dukungan psikologis dan terapi medis.

Baca juga: Infertilitas Pria: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Gejala Disfungsi Ereksi yang Perlu Diwaspadai

Mengenali gejala disfungsi ereksi sejak dini merupakan langkah penting dalam mencegah komplikasi lebih lanjut dan memilih pengobatan yang tepat. Gejala-gejala ini dapat bervariasi pada setiap individu, tetapi umumnya memiliki pola yang serupa. Bila berlangsung lebih dari tiga bulan, gejala-gejala berikut sebaiknya tidak diabaikan.

1. Kesulitan Mencapai Ereksi Meski Ada Rangsangan Seksual

Salah satu tanda awal yang paling umum adalah ketidakmampuan untuk mencapai ereksi meskipun sudah mendapat stimulasi seksual yang cukup. Hal ini menunjukkan gangguan pada respons saraf, hormon, atau aliran darah yang seharusnya bekerja secara harmonis.

2. Ereksi Tidak Cukup Kuat untuk Penetrasi

Dalam beberapa kasus, ereksi mungkin terjadi, tetapi tidak cukup keras untuk melakukan hubungan seksual secara efektif. Kondisi ini bisa menyebabkan rasa frustrasi baik secara fisik maupun emosional bagi pria dan pasangannya.

3. Ereksi Tidak Bertahan Lama

Durasi ereksi yang terlalu singkat juga menjadi indikator disfungsi ereksi. Jika ereksi hilang sebelum penetrasi atau hanya berlangsung dalam waktu yang sangat singkat, hal ini menandakan adanya gangguan pembuluh darah atau saraf yang perlu ditindaklanjuti.

4. Libido Menurun Secara Signifikan

Penurunan gairah seksual atau libido menurun juga termasuk dalam spektrum gejala disfungsi ereksi, terutama bila dikaitkan dengan perubahan hormon seperti rendahnya kadar testosteron.

5. Frustrasi atau Stres Akibat Gangguan Seksual

Kondisi ini sering kali berdampak pada kesejahteraan emosional. Perasaan kecewa, malu, atau cemas terhadap performa seksual dapat memperburuk kondisi dan menimbulkan siklus stres yang berkelanjutan.

Penyebab Umum Disfungsi Ereksi

Disfungsi ereksi dapat disebabkan oleh kombinasi faktor fisik dan psikologis. Memahami penyebab di balik kondisi ini penting untuk menentukan pendekatan pengobatan yang paling efektif. Berikut beberapa penyebab yang sering ditemukan:

1. Penyakit Kronis

Penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan jantung dapat merusak pembuluh darah dan saraf yang berperan dalam proses ereksi. Kondisi ini sering kali menjadi penyebab utama pada pria dengan disfungsi ereksi organik.

2. Gaya Hidup Tidak Sehat

Merokok, konsumsi alkohol berlebihan, pola makan buruk, dan kurangnya aktivitas fisik adalah faktor gaya hidup yang dapat memperburuk aliran darah dan menurunkan kadar hormon pria. Semua ini berkontribusi langsung terhadap kesehatan reproduksi pria.

3. Masalah Hormonal

Penurunan kadar testosteron, hormon utama pria, dapat menyebabkan libido menurun dan melemahkan kemampuan untuk mempertahankan ereksi. Gangguan pada kelenjar tiroid atau hipofisis juga dapat memengaruhi fungsi seksual.

4. Efek Samping Obat-obatan

Beberapa obat seperti antihipertensi, antidepresan, dan obat penenang bisa menimbulkan efek samping yang berdampak pada fungsi ereksi. Konsultasikan selalu dengan dokter bila Anda merasa gangguan ereksi muncul setelah penggunaan obat tertentu.

5. Stres dan Gangguan Kecemasan

Faktor psikologis seperti stres kerja, tekanan hubungan, kecemasan performa, dan depresi bisa mengganggu respons seksual alami. Ini adalah penyebab utama dari jenis disfungsi ereksi psikogenik.

Baca juga: Vasektomi: Metode KB Pria yang Efektif dan Aman

Pengobatan Disfungsi Ereksi

Pendekatan pengobatan disfungsi ereksi harus disesuaikan dengan penyebab dan kondisi medis masing-masing individu. Berikut ini adalah beberapa opsi terapi yang lazim direkomendasikan oleh tenaga medis:

1. Perubahan Gaya Hidup

Langkah awal dan paling mendasar adalah memperbaiki gaya hidup. Menghentikan kebiasaan merokok, mengurangi konsumsi alkohol, menjaga berat badan ideal, serta menerapkan pola makan sehat dan olahraga teratur sangat membantu meningkatkan aliran darah dan kadar hormon.

2. Terapi Obat

Obat-obatan seperti sildenafil (Viagra), tadalafil, atau vardenafil bekerja dengan memperlebar pembuluh darah, termasuk di penis, sehingga mempermudah terjadinya ereksi. Obat ini hanya boleh digunakan di bawah pengawasan dokter untuk mencegah efek samping dan interaksi berbahaya.

3. Terapi Hormon

Jika impotensi disebabkan oleh kadar testosteron yang rendah, dokter dapat merekomendasikan terapi pengganti hormon (TRT). Terapi ini akan membantu mengembalikan libido, meningkatkan energi, dan memperbaiki fungsi ereksi.

4. Konseling Psikologis

Pada kasus yang melibatkan faktor emosional atau psikologis, konseling sangat bermanfaat. Psikoterapi dapat membantu mengelola kecemasan, memperbaiki komunikasi dengan pasangan, dan mengatasi trauma psikoseksual.

5. Alat Bantu Medis atau Prosedur Bedah

Dalam kasus kronis yang tidak merespons terapi lain, dokter mungkin merekomendasikan penggunaan alat vakum ereksi (penis pump) atau prosedur bedah seperti implan penis. Solusi ini bersifat invasif dan dipilih hanya setelah opsi lain terbukti tidak efektif.

Penutup

Menghadapi disfungsi ereksi bukan hal yang harus Anda lalui sendiri. Di klinik BAMED pada Layanan Andrologi, menyediakan layanan konsultasi dan penanganan menyeluruh untuk masalah kesehatan reproduksi pria, termasuk evaluasi hormon, terapi medis, dan pendekatan psikologis yang didukung oleh tim ahli berpengalaman.

Kami memahami bahwa setiap pasien memiliki kebutuhan yang unik. Oleh karena itu, setiap rencana pengobatan disusun secara personal, demi hasil yang optimal dan aman. Jangan biarkan impotensi memengaruhi kualitas hidup Anda.