Ditinjau oleh : drg. Ayu Monika
Kesulitan saat mengunyah atau berbicara dengan nyaman, serta merasa ada yang kurang dengan penampilan gigi dan rahang, bisa disebabkan oleh ketidaksejajaran gigi dan rahang. Masalah ini sering kali tidak disadari sejak dini, meskipun dampaknya bisa terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Ketidaksejajaran tersebut dapat mempengaruhi kenyamanan saat makan, berbicara, hingga kepercayaan diri. Namun, kabar baiknya, kondisi ini dapat diperbaiki dengan perawatan yang tepat.
Pengertian Maloklusi
Maloklusi adalah kondisi di mana posisi gigi dan rahang tidak sejajar, yang dapat mempengaruhi fungsi pengunyahan, bicara, hingga penampilan wajah. Penyebab utama maloklusi meliputi faktor genetik, pertumbuhan rahang yang tidak sempurna, atau kebiasaan buruk di masa kecil, seperti menghisap jempol.
Meskipun maloklusi ringan mungkin tidak memerlukan perawatan, kondisi yang lebih berat dapat menyebabkan rasa tidak nyaman saat mengunyah, berbicara, bahkan menyebabkan luka pada bagian dalam pipi, gusi, atau lidah akibat gigi yang saling bertabrakan.
Kondisi ini dikenal sebagai maloklusi, yang berasal dari kata Latin “mal” (buruk) dan “oclusio” (penggigitan). Jika maloklusi cukup parah, bisa mengganggu aktivitas sehari-hari dan memerlukan perawatan lebih lanjut, seperti pemasangan kawat gigi atau bahkan operasi. Dengan perawatan yang tepat, maloklusi dapat diatasi untuk memperbaiki fungsi mulut dan meningkatkan penampilan wajah.
Baca Juga: Perawatan Saluran Akar Gigi: Tahapan, Tujuan, dan Manfaatnya untuk Gigi
Penyebab Terjadinya Maloklusi
Penyebab maloklusi beragam, mulai dari faktor genetik hingga kebiasaan yang kurang baik sejak kecil. Berikut adalah beberapa faktor utama yang dapat menyebabkan terjadinya maloklusi:
1. Faktor Genetik
Salah satu penyebab utama maloklusi adalah faktor genetik. Bentuk dan ukuran gigi serta rahang seseorang sangat dipengaruhi oleh genetik. Jika salah satu orang tua memiliki masalah dengan posisi gigi atau rahang, kemungkinan besar anak mereka juga akan mengalami hal yang sama.
2. Kebiasaan Buruk pada Anak
Kebiasaan seperti mengisap jempol atau menggunakan dot terlalu lama dapat mengubah struktur gigi dan rahang pada anak. Kebiasaan ini dapat mengganggu perkembangan alami gigi dan rahang, yang akhirnya menyebabkan maloklusi.
3. Cedera pada Gigi atau Rahang
Cedera atau trauma pada gigi atau rahang dapat mengubah posisi gigi yang sudah tumbuh, bahkan bisa menyebabkan kerusakan pada rahang. Hal ini seringkali menjadi penyebab maloklusi yang dapat mempengaruhi fungsi pengunyahan dan berbicara.
4. Kondisi Kesehatan Lainnya
Beberapa kondisi medis, seperti tumor mulut, bibir sumbing, atau langit-langit mulut yang terbelah, dapat memengaruhi pertumbuhan gigi dan rahang, yang pada akhirnya dapat menyebabkan maloklusi. Selain itu, penyakit sistemik tertentu, seperti gangguan hormon, juga bisa mempengaruhi perkembangan gigi dan rahang.
5. Kehilangan Gigi atau Posisi Gigi yang Tidak Normal
Kehilangan gigi pada usia dini atau pertumbuhan gigi yang tidak normal bisa mengganggu posisi gigi yang lain. Jika gigi tumbuh tidak pada tempatnya, ini bisa menyebabkan ketidaksejajaran gigi dan maloklusi.
Untuk mengetahui penyebab pasti dari maloklusi, langkah terbaik adalah berkonsultasi dengan dokter gigi. Dokter akan melakukan pemeriksaan dan tes untuk menentukan penyebab yang mendasarinya dan memberi rekomendasi perawatan yang tepat.
Baca Juga: Scaling Gigi: Solusi untuk Gigi Bersih dan Bebas Karang Gigi
Jenis-jenis Maloklusi
Masalah ketidaksesuaian posisi gigi dan rahang, atau maloklusi, bisa mempengaruhi fungsi mulut dan estetika wajah. Maloklusi dapat terjadi karena berbagai faktor, termasuk faktor genetik, kebiasaan buruk sejak kecil, atau cedera. Untuk membantu memahami lebih jauh mengenai maloklusi, berikut adalah penjelasan tentang jenis-jenis maloklusi yang umum dijumpai:
1. Maloklusi Kelas I (Maloklusi Sedang)
Jenis ini merupakan kondisi yang paling sering ditemukan. Gigi atas dan bawah pada maloklusi kelas I berada pada posisi yang relatif normal. Namun, terdapat masalah pada beberapa gigi tertentu, seperti gigi taring yang terlalu maju atau gigi geraham yang tidak sejajar dengan baik.
2. Maloklusi Kelas II (Overbite atau Retrognathism)
Pada maloklusi kelas II, rahang atas lebih maju dibandingkan rahang bawah. Kondisi ini menyebabkan gigi depan atas menutupi gigi bawah terlalu banyak. Masalah ini sering disebut sebagai overbite atau dalam istilah medis retrognathism. Biasanya, kondisi ini membuat tampilan gigi dan rahang tidak proporsional.
3. Maloklusi Kelas III (Underbite atau Prognathism)
Berbeda dengan kelas II, maloklusi kelas III terjadi ketika rahang bawah lebih maju daripada rahang atas. Hal ini menyebabkan gigi bawah lebih menonjol dibandingkan dengan gigi atas, yang bisa membuat sulit untuk mengunyah atau berbicara dengan nyaman. Dalam masyarakat Indonesia, kondisi ini sering disebut sebagai ‘cameh.’
4. Crossbite (Gigitan Silang)
Gigitan silang terjadi ketika gigi atas tidak sejajar dengan gigi bawah, baik di sisi kanan maupun kiri. Gigi atas bisa berada di belakang gigi bawah atau sebaliknya. Crossbite dapat menyebabkan gangguan pada pengunyahan dan bisa mengarah pada masalah gigi lainnya jika tidak segera ditangani.
5. Open Bite (Gigitan Terbuka)
Open bite terjadi ketika gigi atas dan bawah tidak bertemu saat mulut tertutup. Hal ini membuat gigi tidak saling bertumpu dan dapat menyebabkan kesulitan saat mengunyah makanan atau berbicara. Maloklusi jenis ini bisa terjadi pada bagian depan gigi atau di bagian belakang.
Pengobatan Maloklusi
Jika dibiarkan tanpa penanganan, maloklusi bisa menyebabkan gangguan dalam berbicara, mengunyah makanan, bahkan masalah penampilan wajah. Berikut metode pengobatan maloklusi yang umum dilakukan:
1. Pemasangan Behel (Kawat Gigi)
Behel merupakan solusi yang paling sering digunakan untuk meratakan gigi dan memperbaiki posisi rahang. Dengan memberikan tekanan perlahan, behel akan memindahkan gigi ke posisi yang lebih baik, sehingga meningkatkan fungsi pengunyahan dan penampilan secara keseluruhan.
2. Alat Ortodontik Lainnya
Selain behel, ada berbagai alat ortodontik lain yang bisa digunakan, seperti retainer, aligner, dan headgear. Alat ini biasanya digunakan untuk menangani maloklusi ringan atau untuk menjaga posisi gigi setelah pemasangan behel.
3. Pencabutan Gigi
Pada beberapa kasus, pencabutan gigi diperlukan untuk memberikan ruang bagi gigi lain yang terlalu berdesakan. Hal ini membantu menciptakan ruang yang diperlukan agar gigi bisa bergerak dan sejajar dengan baik selama proses perawatan.
4. Operasi Rahang (Operasi Ortognatik)
Untuk maloklusi yang parah, di mana posisi rahang sangat tidak sejajar, operasi ortognatik mungkin diperlukan. Prosedur ini dilakukan untuk memperbaiki posisi rahang atas atau bawah agar lebih sejajar, yang pada akhirnya memperbaiki penampilan dan fungsi pengunyahan.
5. Perawatan Kebiasaan Buruk (Pada Anak-anak)
Pada anak-anak, maloklusi sering kali dipengaruhi oleh kebiasaan buruk, seperti menghisap jempol atau penggunaan dot yang berlebihan. Menghentikan kebiasaan ini dapat membantu memperbaiki pertumbuhan gigi dan rahang dengan lebih baik.
Menjaga kesehatan gigi dan rahang sejak dini sangat penting untuk mencegah masalah maloklusi yang bisa mempengaruhi kenyamanan sehari-hari, seperti saat makan atau berbicara. Jika Anda atau anak Anda mengalami tanda-tanda ketidaksesuaian posisi gigi dan rahang, segera konsultasikan dengan dokter gigi.
Penanganan yang cepat dan tepat bisa mencegah komplikasi lebih lanjut dan memperbaiki penampilan serta fungsi mulut secara keseluruhan. Jangan ragu untuk mengunjungi Klinik BAMED di cabang Meruya untuk mendapatkan perawatan yang sesuai dengan kebutuhan Anda.
